Konser Intim White Shoes & The Couples Company di Semarang
Angka berhenti di 8 pada lembar Juli 2023 tetapi jarum pendek belum menunjuk angka yang sama saat muda-mudi bersepatu putih—kalau bukan bot bermerek tertentu—terlihat menyegerakan diri menyerbu lift lantai dasar Rooms Inc. Semarang. Berdasarkan ciri tersebut, dapat ditebak bahwa yang mereka tuju tak lain dan tak bukan adalah Suburbian: An Intimate Concert, sebuah konser intim dari penampil dengan pakem gaya yang serupa—White Shoes & The Couples Company.
![]() |
| Gambar 1. Poster Suburbian (dok. Whocares Collective) |
![]() |
| Gambar 2. Tiket Suburbian |
![]() |
| Gambar 3. Goldthief |
![]() |
| Gambar 4. White Shoes & The Couples Company |
![]() |
| Gambar 5. Sari Menuju ke Tengah Kerumunan |
![]() |
| Gambar 6. John Navid |






Sudahlah alami bagi manusia untuk terus-menerus menginginkan yang lebih baik. Tak hanya dalam hal mencerna, melainkan juga dalam menciptakan. Tentu, hal-hal seperti inilah yang mendefinisikan kita sebagai insan. Namun, rasanya tak selamanya hasrat harus dipuaskan.





Entah apa yang ingin dicapai oleh Amber Bain melalui tunggalan berikut. Apabila dibandingkan dengan dua koleksi sebelumnya, tunggalan dari album penuh keduanya mendatang ini justru terdengar sederhana dan minim ornamen. Toh, kalaupun maksudnya adalah untuk ikut menimbrung dalam tren tembang dansa elektronik, ia terlambat beberapa tahun. Satu-satunya alasan yang dapat diterima adalah jika bukan kedua tujuan tersebutlah yang disasar oleh musisi asal Inggris ini.
Bermain pada dua sisi dari pascapunk, Angelina Paskalia (vokal), Fadhullah Hamid (gitar), dan Ivan Reza (bas) melepas tunggalan maksi sebagai salam perkenalan. Sayangnya, sebab harus dijinakkan menjadi pop indi yang ramah telinga, "Midnight Thought" dan "Pleasure" tampaknya sulit untuk jadi satu yang berkilau di antara gunung-gunung banal rilisan dalam gaya musik tersebut.
Untuk kesekiankalinya, kita harus kembali melihat Bagas Wisnu Wardhana dalam daftar nama personel orkes anyar. Untungnya, kali ini bukan punk yang lagi-lagi dipilih sebagai gaya musiknya. Memang, Encek kembali menyumbangkan suara tetabuhan, tetapi bersama Adam Bagaskara dari Pelteras, Vito Tomharto dari Cum Loud, dan Haecal Aliba Benarivo dari Morgensoll, ia kini dipaksa bermain dalam koridor rok industrial.
Hadirnya orang baru ke dalam kehidupan memang hampir selalu disertai dengan munculnya warna-warna baru. Nicolle Swims mungkin mengalami hal tersebut kala Billie Jessica Paine menggantikan posisi Jonny Modes. Kini, saat hidupnya telah membaik, walaupun "Song for a Sickhead" tetap saja terdengar gila, Black Ends akhirnya mampu terdengar lebih ramah telinga melalui "My Own Dead".
Mungkin sama seperti kita, sebuah kugiran sendiri ingin diri mereka berkembang secara terus-menerus. Namun, apakah menjadi lebih baik harus secara harfiah diwujudkan dengan meningkatkan kualitas dan kompleksitas? Mungkin iya, mungkin juga tidak.



