Celoteh kami, langsung ke surel kamu

Rekah — Kiamat, babak pertama (Ulasan)

24 Januari

Perkenalan arahan baru
Rekah — Kiamat, babak pertama (Ulasan)
Sampul oleh Ikrar Waskitarana

Pembukaan

Setahun selepas Berbagi Kamar, orkes asal Jakarta ini belum berani untuk bermain lebih jauh dari formula yang telah dipatenkan saat meracik sang EP perdana. Buktinya, “...and you're still thinking there's no such thing as ‘gulag’?” bisa dibilang tak terlalu mengejutkan—kecuali jika dipercayanya Faiz sebagai penulis lirik utama, dimanfaatkannya bahasa Inggris sebagai alat penyampaian muatan, dan digunakannya gaya visual baru pada sampul ingin dihitung sebagai angin segar. Sialnya, dirilisnya tunggalan tersebut rupanya justru merayakan hal lain: terminasi formasi mereka pada saat itu.


Apakah peristiwa tersebut juga dapat dihitung sebagai kiamat? Kiamat kecil mungkin? Tidak juga. Tidak tahu juga. Apapun itu, di kemudian hari, mereka tampak berhasil menyintasinya dengan subsidi silang yang melibatkan Fachri Bayu Wicaksono dari Orestes—Junior Johan menjadi penyokong ketukan di From the Unaltered Nerves to the Deafened Minds—ataupun dengan membangun hubungan putus-sambung dengan Stephania Shakila Cornelia dari Veinn. Yang disebut terakhir, untungnya berhasil diyakinkan untuk menetap.

Formasi baru lantas terbentuk sudah. Rencana berikutnya tentunya adalah sebuah gebrakan baru. Naas, gairah semata rupanya tak cukup dipersiapkan sebagai amunisi, sebab 2020 nyatanya melumat habis mereka—yah, mungkin kita semua juga. Melambat, terseok, mereka akhirnya memutuskan untuk melepas terlebih dahulu sebagian dari album penuh mendatang sebagai cicilan, baik secara kiasan maupun secara harfiah.

Kini mungkin terbersit pertanyaan, “bukankah pergantian lini hampir selalu dibarengi dengan pergeseran gaya musik? Apakah arkian Rekah akan tercemar oleh Veinn, Orestes, atau bahkan Wallflower serta Heartwire—yang tercipta di tengah Rekah juga berproses—yang dapat dikatakan memiliki arahan musik tak sejalan dengan, ambil saja, Berbagi Kamar?” Maka, mari tilik prolog yang telah mereka suguhkan secara lebih seksama.


Pembedahan

Memberikan sapaan paling baik, Rekah membuka Kiamat, babak pertama dengan salam paling akrab yang dapat mereka berikan: post-rockalisasi puisi. Kali ini tak perlu lagi ada suara asing yang ditunjuk sebagai pelafal. Sebab, untuk apa punya vokalis seorang pujangga jika tidak dimanfaatkan?

Selewat beberapa saut-sautan petikan gitar melankolis dan tumpukan ambiens yang menggaung, drama kembali dimulai. Tepy (Stephania) mulai kelewat emosional, menggerung, meraungkan dilema yang dialami Tomo saat ia memilih untuk menyandarkan kecemasannya kepada jagat maya.

Yang terjadi berikutnya hampir bisa ditebak: post-hardcore yang terlalu banyak ornamen—terlalu banyak mau—kembali digulirkan. Itu, kalau dilihat secara sekilas. Pasalnya, keseluruhan “Dua pagi di Fatmawati” sebenarnya secara cermat dihabiskan untuk mengakomodasi beberapa transisi yang sebenarnya sedang mereka alami: a. ketukan Junior melunglai, tak lagi sempat merepet—ala black-metal, lebih jelasnya—memburu telinga; b. petikan melodius ala Wallflower melengserkan dominasi kocokan ngebut gitar berdistorsi; c. jeritan Tepy menukar persona gahar dengan yang lebih rapuh; dan d. karangan Tomo kini luntur majas dan selimut fantasinya.


Kini, di ujung pekikan gitar berkepanjangan yang memekakkan itu, mari ambil napas dalam-dalam, tahan selama beberapa detik, dan kemudian buang kembali bersamaan ekspektasi yang telah tercipta sebelumnya. Pasalnya, pada dua nomor berikutnya, tak ada yang terjadi selain perkenalan paksa terhadap sisi yang sebelumnya tak pernah ditampakkan kelompok arahan Tomo ini. Harus diakui, penunjukan “Dua pagi di Fatmawati” sebagai tunggalan utama dapat digolongkan sebagai sebuah taktik yang cukup licik mengecoh.

Entah kerasukan hantu yang mana, dalam “Panduan menunda kiamat” yang datang setelahnya, gaya musik mereka diseret secara sepihak ke arah yang lebih dekat dengan mentahan akar mereka: hardcore. Soniknya gersang—setidaknya hingga bridge-nya datang menyiram telinga. Jika ingin dicari-cari biangnya, yang paling mungkin menjadi tertuduh dari manuver ini tak lain tak bukan adalah Tepy dan sisa-sisa Veinn yang masih mengendap dalam pembuluh darahnya.

Entah kerasukan hantu yang mana (lagi), gaya lirik sentimental yang mereka usung sedari awal pun turut ditukar sementara dengan kemurkaan yang murni, tanpa tedeng aling-aling—kecuali untuk penggunaan sedikit analogi ibadah yang disisipkan. Rekah kini malih jadi pejuang keadilan sosial, tak lagi hanya sibuk berkutat dengan diri sendiri.

Jika ditilik kembali setelahnya, pemilihan gaya musik baru yang telah dibahas sebelumnya mulai terasa masuk akal. Tanpa tahu mana yang lebih dahulu tercipta—bunyinya ataupun muatannya—keduanya berakhir serasi satu sama lain. Meskipun begitu, aksi banting setir nekat seperti ini umumnya akan memicu dua buah reaksi yang berseberangan dari pendengar lawas mereka: berpaling atau semakin jatuh hati.

Kelar yang beringsang, menjelanglah yang justru kelewat sejuk—dalam takaran Rekah, tentunya. Tomo dan gerombolannya rupanya ogah mencukupkan gelaran akrobat mereka yang berisiko itu. Menelusur lebih jauh, orkes ini justru berakhir menyelam di kolam indie rock. Berbekal tarian-tarian kecil nan manis pada dawai gitar, struktur yang sederhana, pula sorak sorai bernada pesimis-optimis, kuintet ini memberikan petuah seputar alkohol dan khasiatnya yang semu melalui “Kabar dari dasar botol”.


Penutup

Hanya dengan menyajikan tiga buah nomor, pretelan pertama dari bakal album penuh Rekah ini sukses memberikan cicipan atas arahan baru yang akan mereka usung: a. gaya musik yang semakin meluas—atau justru sedang berbelok perlahan—yang agaknya dipengaruhi oleh perubahan personel; b. penulisan lirik minim majas dari sang motor utama—masih perlu dipastikan apakah Tepy turut andil memberi imbas; hingga c. pendewasaan pola pikir Tomo dalam memandang penyakit mental: bahwa pemulihannya bukan melulu hanya dipengaruhi oleh faktor internal semata.

Sayangnya, tak semua orang mudah menerima perubahan, apalagi yang tajam. Yang memuja post-blackened jazzgaze mungkin akan mengeluh, yang memuja puisi simbolis akan mengaduh, dan yang doyan kedekatan personal mungkin tak akan terenyuh. Apapun itu, rasanya Rekah tak akan mempermasalahkannya, sebab ini adalah mereka yang sekarang, seada-adanya.
Melalui Kiamat, babak pertama, Rekah mulai memperkenalkan arahan baru mereka.

Baca Pula

0 comments