Ayo evaluasi kami!

Rilisan Menawan: September 2020

25 Oktober

Rollfast — Garatuba, .Feast – Uang Muka, Puff Punch — Can We Go Out Now?, dan Kinder Bloomen — PROGRESSION I
Rilisan Menawan: September 2020

Catatan: Rubrik ini sebelumnya bernama Rilisan yang Patut Dilirik.

Di penghujung Oktober, kami memilih album, album mini, dan EP yang dirilis pada September dan menarik perhatian kami. Rilisan-rilisan tersebut lantas kami rangkum ke dalam senarai yang mungkin dapat Anda gunakan sebagai rekomendasi dalam menemukan musik-musik baru.

Berikut adalah senarai tersebut.

1. Rollfast — Garatuba

Siapa sangka? Pertanyaan yang diajukan oleh Backseat Mafia pada sebuah sesi wawancara menjadi sebuah tamparan halus yang akhirnya memicu kelompok asal Bali ini untuk mengevaluasi citra mereka. Kini, menyintas sebagai trio—Gungwah Brahmantia dan Ayrton Willem mengundurkan diri di tengah proses perekaman—Rollfast meninggalkan pakem psikedelik rock ortodoks dan mulai memeluk atmosfer lingkungan tinggal mereka secara lebih erat. Hasilnya, dalam album penuh kedua mereka ini, Agha Dhaksa, Arya Triandana, dan Bayu Krisna tampil dengan sebuah impresi yang kuat cirinya, baik dari segi sonik maupun lirik—sederet komposisi rock eklektiknya memuat kegusaran natural terhadap eksploitasi alam berkedok pemajuan pariwisata di Pulau Dewata yang disampaikan dalam dwibahasa Indonesia-Bali.





2. .Feast — Uang Muka

Tertundanya perilisan Membangun dan Menghancurkan rupanya mendorong sebuah pengambilan keputusan yang menghasilkan dampak menarik terhadap keluaran kuintet sospol asal Jakarta ini. Tereksposnya sudut-sudut baru dari musik .Feast merupakan salah satu yang mampu menonjol dari kembali dibagikannya tahta Baskara kepada empat personel lain. Lima nomor utama dalam EP dadakan mereka ini berhasil menyajikan preferensi personal dari masing-masing anggota, sampai-sampai penyebab mereka sempat terdengar begitu pop hampir bisa ditebak.





3. Puff Punch — Can We Go Out Now?

Pada awal tahun, kuintet garage-pop asal Jakarta ini menghantam dengan manis melalui “Serotonin”, tunggalan debut mereka. Ketukan drumnya meledak-ledak di bagian paling depan, dan bersamaan dengan permainan gitar yang renyah, memunggungi vokal imut nan ketus. Malang, pandemi yang tengah terjadi—akhirnya pun menjadi objek yang diolok-olok—agaknya memaksa mereka untuk secara hampir total menggodok sendiri serangan selanjutnya. Namun, tak matang tak selalu berarti tak menawan, sebab kualitas rendah dan estetika swakriya yang akhirnya melekat pada keempat nomor yang dihasilkan tetap saja selaras dengan gaya musik yang mereka usung dan justru dapat menjelma sebagai pesona yang berbeda.





4. Kinder Bloomen — PROGRESSION I

Mengeja ulang judul salah satu nomor milik Real Estate, nyatanya tak serta-merta menjadi indikasi bahwa mereka akan menyajikan gaya musik yang serupa. Meskipun begitu, tiga nomor yang hampir taat mengikuti pakem rock psikedelik—bubuhan permainan trompet Raka cukup berhasil menyerongkan arah mereka—ini masih menyajikan formula yang hampir seiras dengan “Kinder Blumen”, yakni terbatasnya kehadiran vokal. Langkah tersebut mungkin saja dilakukan secara sengaja, dengan vokal serampangan Danang pada “Middle East” sebagai penyebabnya.


Baca Juga

0 comments