BAPAK — Miasma Tahun Asu (Ulasan)

11 Oktober

Miasma Tahun Asu berhasil menjadi sajian organik yang mendobrak batas-batas dalam gaya musik.
Dobrak dinding pembatas gaya musik
BAPAK — Miasma Tahun Asu (Ulasan)

Pembukaan

Pada awal 2019, saya masih merutuki diri saya sendiri. Meremehkan monkshood dan selalu menunda-nunda untuk mulai mendengarkannya pada akhirnya membuat saya melewatkan album tersebut dalam rangkuman Rilisan yang Patut Disimak edisi tahun 2018. Sialan! Patahan-patahan hip-hop paling menarik yang diproduksi dengan sangat matang—belum lagi luasnya penggunaan gaya musik lain yang dilemparkan ke dalam racikannya—itu luput dari pandangan! Kejadian tersebut lantas memicu saya untuk lebih jeli memasang mata pada Kareem Soenharjo sembari menggali konsep persona ganda yang ia usung sebagai seorang musisi.

Waktu berlalu, dan di tengah bercecerannya nomor-nomor lepas yang ia rilis, Kareem masih menyempatkan diri untuk melepas EP di bawah nama yosugi dan BAP. Tak hanya berkarya sebagai aliasnya sendiri, ia turut menyumbangkan kepiawaiannya ke dalam dua buah nomor dalam Menari dengan Bayangan, sebagai kelanjutan dari “No One Will Find Me”. Namun, alih-alih memberikan pertanda bahwa akan ada album penuh berikutnya dari BAP., Kareem justru memilih untuk mengusung sebuah nama lain. Kali ini, dengan mengajak Alfath Arya Nugraha (Kaveman/Flowr Pit), Kevin Silalahi (whoosah), dan Bagas Wisnu Wardhana (taRRkam/Morgensoll), ia berusaha memuaskan hasratnya dalam menyusun musik secara lebih organik. Maka terciptalah BAPAK.

Sebelum melanjutkan lebih jauh, mungkin hal ini perlu dicatat, sampai saat ini saya tak tahu pasti apakah BAPAK harus ditulis dengan menggunakan titik di akhir kata. Pada Bandcamp dan Spotify, Kareem sendiri menempatkan penulisan yang berbeda. Mungkin ia juga tidak peduli dengan hal itu. Entahlah, yang saya tahu BAPAK ditulis dengan huruf kapital dan merupakan akronim dari BAP. dan Anggota Keluarga.


Pembedahan

Kita tahu bahwa Bagas telah sempat menjadi pemain drum bagi BAP., pula hampir sama luwesnya dengan Kareem dalam hal gaya musik. Kini, Alfath, yang dikenal sebagai seorang pemain gitar college rock pun hard rock, dan Kevin, yang dikenal sebagai seorang pembuat beat, bergabung dengan mereka. Lalu kemana kumpulan ini akan menjejakkan kaki mereka? Ke atas hip-hop, hardcore, jazz, rock, punk, atau musik elektronik? "Jon Devoight" yang dilepas sebagai tunggalan pertama hadir sebagai jawaban.


Tunggalan dengan distorsi ugal-ugalan yang nampaknya tak sanggup ditampung dalam frekuensi yang mampu didengarkan oleh manusia tersebut menyajikan musik bergaya hardcore agresif, seolah ingin melanjutkan kekacauan dari “pagi”—dan oleh karenanya, saya tidak begitu terkejut—dengan pengembangan berupa susunan progresif dan munculnya jeritan. Untuk sementara saya tahu bagaimana harus membangun ekspektasi saya atas kuartet ini, hingga akhirnya pondasinya mulai dicerai-beraikan oleh “Pity Me”, tunggalan mereka selanjutnya.

Kini distorsi tiba-tiba hilang entah ditelan apa dan dentuman bass yang akhirnya dirayapi ambient instrumental yang kian lama kian meracaulah yang menggantikannya. Manuver semacam ini tak akan mengherankan jika dilakukan atas nama Kareem seorang, tapi melepasnya sebagai sekelompok orang yang sama yang memainkan “Jon Devoight”? Transisi dari versi 7 menit tunggalan pertama mereka yang dilepas bersamaan dengannya cukup bagus memberikan sebuah gelagat, tapi-oh, yang benar saja!


Paduan beragam gaya musik sekaligus dan bagaimana tiap rongganya dapat disusupi detail menarik, merupakan ciri khas dari karya dengan sentuhan Kareem. Kedua tunggalan sebelumnya jelas telah dapat kembali memamerkan kepiawaian tersebut, terlebih "Pity Me". Namun “Dogma Milenial Provinsi Yggdrasil” yang dilepas sebagai tunggalan terakhir sebelum album perdana mereka dirilis mampu menyuguhkan anasir lain sebagai pemukau. Dalam musik yang kembali penuh amukan pula acakadut selayaknya judul yang disematkan, BAPAK mempertanyakan konsep kehidupan sebagai seorang manusia bertemankan raungan dari Tomo (Rekah). Berminggu-minggu setelahnya, lirik dari lagu ini—mudah tercerna sebab dicecarkan dalam bahasa Indonesia yang lugas—memenuhi kepala saya, setelah terasosiasikan dengan krisis perempat baya. Ini merupakan kali pertama lirik Kareem dapat tersampaikan dengan baik, sebelum kemudian disusul oleh seri An Angel at My Table.

Sampai di sini, mulai muncul sebuah pertanyaan. Jika semua atraksi sudah dijajakan, apa pesona lain yang dapat ditawarkan oleh sisa nomor lain saat pada akhirnya sang album penuh dirilis? Maka, mari mulai meniliknya satu persatu.


Membuka album yang pada akhirnya diberi judul Miasma Tahun Asu—pemenang dari kurang lebih dua calon judul lainnya—BAPAK menyajikan “Black Heron Intro”. Sajian apa yang paling ampuh memberikan gambaran dari keseluruhan album yang mendobrak batas-batas gaya musik hanya melalui satu buah nomor yang memulainya? Tentu saja petikan gitar tak berkawan yang kemudian diseret ke dalam rock berimbuhan beragam sonik bising yang ujungnya dibuat menyerupai sebuah gubahan orkestra!

Beranjak dari sana, nomor-nomor yang telah dilepas sebagai tunggalan kembali menampakkan diri mereka satu per satu. Sebuah pola lantas muncul setelahnya: nomor-nomor abrasif akan selalu dijeda dengan yang utamanya tidak. Mungkin hal ini memang dimaksudkan sebagai cerminan dari perubahan suasana hati Kareem yang fluktuatif. Bagi saya pribadi susunan tersebut tak mendatangkan keberatan apapun, sebab bagian lembutnya dapat dianggap sebagai titik-titik rehat bagi indra pendengaran. Namun, ayunannya yang kencang mungkin akan menimbulkan perasaan tak nyaman bagi pendengar lain.

Ketentuan tersebut terbukti penerapannya saat “Hijrah (A Song for Grandmother as She Travels Beyond)” menyambut dengan lembut. Anehnya, tak ada yang terlalu aneh dari nomor ini. Hiasannya minimal: suara statik, synthesizer minimal, dan permainan trompet Raka Soetrisno yang silih berganti menemani petikan gitar akustik dengan pola berulang. Aransemen timpang yang disuguhkan tepat di bagian tengah ini lantas secara tak langsung menjadi titik peralihan bagi tema maupun gaya musik utama dari keempat nomor yang tampak setelahnya.

Seusai rehat, maka tentunya sebuah lagu keras kembali dipersilakan untuk tampil. Namun, seakan mulai mereda amarahnya, BAPAK memulai “Orpheus LIVE From The Underworld” dengan perlahan, alih-alih langsung tancap gas sedari awal selayaknya pada "Jon Devoight" dan “Dogma Milenial Provinsi Yggdrasil”. Agresi ugal-ugalannya pun mulai digusur oleh rock yang secara ringan terpengaruh oleh jazz dan hanya hadir pada bagian paling riuhnya.

Setelah menyuguhkan gaya baru bagi nomor hingar bingar mereka, formula yang serupa dengan “Hijrah” kembali disajikan sebagai kidung lunak yang berikutnya. Hanya ada satu perbedaan yang dapat ditangkap, namun justru hal ini adalah yang paling mencolok. Pada bagian pertama seri An Angel at My Table ini, Regina Gabrielalah yang dipercaya sebagai penyenandung utama—vokal Kareem masih disumbangkan, tetapi hanya sekelebat. Kini, selain detail-detail kecil dan bridge yang mengejutkan, tak ada lagi hal lain yang mampu mengganggu saya menghayati sisi rapuh dari seorang Kareem, yang semakin nyata sebab vokal Regina seolah sedang memposisikan dirinya sebagai suara hati pria multipersona tersebut. Dia patah hati. Dan empati serta asosiasi membuat saya turut merasakannya.

Melangkahi sekuelnya yang diperdengarkan hanya selama beberapa jam di laman Bandcamp BAPAK / BAP. / yosugi, rasa sakit yang sebelumnya telah timbul dipaksa untuk dilarikan langsung ke bagian pemungkas dari sang trilogi. Keputusan untuk tak menyertakan nomor belasan menit tersebut sebenarnya dapat cukup disayangkan, sebab saat Kareem yang kembali hadir guna mewakili dirinya sendiri seketika telah mulai dapat menerima kemalangan yang terjadi, sebuah tahap dalam berdukacita terasa telah diloncati. Kecuali, jika sebenarnya ini juga belum mencapai babak untuk merasa legawa. Ledakan pada bagian penutup nomor yang justru menyuguhkan musik bergaya blues sekaligus math rock ini mendukung pemikiran tersebut.

Selepas "An Angel at My Table III" selesai berputar, maka selesai pulalah rangkaian nomor ribut dalam Miasma Tahun Asu. Pada titik ini, mari kita tilik kembali ketiga nomor riuh lainnya. Jika diperhatikan, ada pola lain yang mulai tampak: dapat terdengar bahwa kecamuk BAPAK secara berangsur mereda.

Pada kopi fisiknya, tertera bahwa Miasma Tahun Asu diartikan secara figuratif sebagai kebencian yang tak kunjung hilang. Walaupun lirik-lirik Kareem dalam beberapa kesempatan terlalu tebal diselimuti majas pun terlalu cerdas untuk dapat dengan mudah dicerna, melalui amukan yang diutarakan, beberapa nomor sebelumnya telah berhasil mengejawantahkan pemaknaan tersebut dengan cukup baik. Namun, sang nomor bungsu rasanya lebih cocok dianggap sebagai perwujudan dari pemaknaannya secara harfiah, yakni racun yang berasal dari tahun anjing. Pendapat ibunda Kareem mengenai pandemi yang tengah terjadi disajikan di dalamnya dengan bertemankan ketukan swing Bagas dan permainan bass Kevin, hingga lantas disusul dan ditutup dengan keusilan Kareem mengolah siaran radio yang ia rekam secara asal. Komposisi yang saling kontras tersebut rupanya memang disuguhkan dengan sengaja, sebab masing-masing darinya dimaksudkan sebagai jelmaan dari permulaan dan pertengahan dari 2020.


Penutup

Sampai di sini, pertanyaan yang dicetak tebal sebelumnya telah dapat terjawab. Melalui kombinasi dua atau lebih gaya musik yang dipadukan ke dalam nomor-nomor Miasma Tahun Asu, BAPAK berhasil menampilkan citra mereka sebagai kelompok yang tak perlu peduli dengan batas-batas dalam gaya musik—mendobrak lebih jauh dari apa yang pernah diterapkan Kareem dalam monkshood.

Hasrat Kareem agar dapat menciptakan musik dalam proses yang lebih organik pun seharusnya sudah dapat terpuaskan, sebab selain memuat lebih banyak porsi instrumen sungguhan yang dimainkan secara langsung, reaksi-reaksi spontan dari Alfath, Kevin, dan Bagas membuat album ini terdengar melaju dengan cukup natural. Namun, kini muncul sebuah pertanyaan baru: jika semuanya direkam secara serba spontan—mereka bahkan tak tahu skala apa yang mereka mainkan—bagaimana cara mereka membawakannya secara langsung? Rupanya, kekhawatiran tersebut bukanlah hal yang sepatutnya membebani pikiran. Meminjam konsep Mars Volta saat melakukan pertunjukan langsung, BAPAK mengaku bahwa mereka mungkin tak akan memainkan susunan yang sama. Yah, antara taktik tersebut atau justru mengisi daftar set mereka dengan lagu-lagu dari School of Rock yang dibawakan ulang. Apapun itu, saya akan siap menerimanya!

Kamu Mungkin Suka

0 comments