Persekutuan Bayangan (Jurnal Pertunjukan)

23 Februari


Hampir selama dua minggu lamanya saya selalu merasa dibayang-bayangi rasa khawatir jikalau nantinya akan melewatkan kesempatan untuk menghadiri tur frontman .Feast ini akibat harus menyelesaikan tumpukan pekerjaan. Rasa cemas ini timbul bukan hanya karena saya sangat ingin menonton Baskara membawakan materi-materi dari album perdananya secara langsung, namun juga harus bersiap membantu kedua pemenang gelaran Sayembara 4 apabila mereka harus menunjukkan identitas pembeli dari tiket yang mereka dapatkan sebagai hadiah. Beruntungnya, dengan kemampuan manajemen diri saya yang tak kunjung mumpuni ini, saya akhirnya tetap mampu mulai bertolak menuju venue sesuai agenda.

Tur Bayangan Semarang
Gambar 1. Tur Bayangan Semarang (dok. Mula)

Hitam-putih yang ditentukan sebagai kode pakaian pada gelaran tersebut memicu otak saya untuk memikirkan beberapa kemungkinan berikut saat menentukan apa yang akan saya kenakan saat menghadirinya: 1. kemeja putih dan celana kain hitam layaknya peserta tes CPNS, atau 2. kemeja hitam dan celana hitam layaknya Deddy Corbuzier. Pada akhirnya, walaupun sebenarnya sangat setuju dengan penggalan lirik, “jangan coba atur gaya berpakaian kami”, saya memutuskan untuk mengenakan kemeja dengan warna hasil percampuran kedua warna tersebut, yakni abu-abu. … Sebetulnya tidak juga sih, sebab kemeja tersebut memang pakaian yang saya kenakan ke kantor pada hari itu. Hah, apa? Ya, saya memang kembali tak menyempatkan diri untuk mandi dan berganti baju.

Antrian Pernak-Pernik Tur Bayangan Semarang
Gambar 2. Antrian Pernak-Pernik (dok. pribadi)

Setibanya di eks-Warung Sosmet, venue Tur Bayangan edisi Semarang, saya dan karyawan pemasaran additional yang nantinya bertugas membagikan stiker suaka suara dengan gesit menempatkan diri di barisan pembeli pernak-pernik yang telah tercipta secara seketika, alih-alih menumpuki barisan penukar tiket. Langkah strategis ini sengaja kami lakukan setelah intelijen kami melaporkan bahwa penjualan pernak-pernik di Jogjakarta habis jauh sebelum pertunjukan dimulai. Walaupun pada akhirnya kami tetap saja kehabisan pernak-penik yang sudah kami incar, toh gerombolan penuh rasa pasrah ini berhasil menyikapinya dengan lapang dada.

・・・

Figura Renata didapuk menjadi penampil yang membuka rangkaian pertunjukan pada malam tersebut. Sayangnya, setelah menyempatkan diri menyantap makan malam terlebih dahulu, saya hanya dapat menyaksikan tiga atau empat lagu yang tersisa dari pertunjukan mereka yang lekas berakhir. Lagu-lagu tersebut pun hanya dapat saya nikmati secara sambil lalu, sebab saya juga harus menghampiri rekan-rekan suaka suara yang terpencar di beberapa sudut keramaian guna menyerahkan stiker yang pun pada akhirnya tak dapat banyak dibagikan kepada kerumunan pada malam tersebut.

Figura Renata - Tur Bayangan Semarang
Gambar 3. Figura Renata (dok. Ikrar)

Saat Aldrian Risjad mulai menampilkan kegarangannya dalam memainkan distorsi, tim suaka suara akhirnya dapat berkumpul bersama-sama di sisi kanan depan panggung, walaupun akhirnya tentu saja tenggelam dalam kegiatannya masing-masing. Di tengah penampilannya, fotografer pocokan yang bertugas menggantikan peran Aliya pada malam tersebut akhirnya memberi kabar kalau baru saja tiba. Hal ini, tentunya, akan saya catat menjadi bahan evaluasi bagi kemungkinan-kemungkinan kerjasama di lain hari.

Aldrian Risjad - Tur Bayangan Semarang
Gambar 4. Aldrian Risjad (dok. Haekal)

Raungan-raungan gahar yang dihasilkan oleh permainan gitar Aldrian Risjad pada malam tersebut cukup menarik perhatian saya dan nampaknya pula milik Ikrar. Gaya bermusiknya membuat saya teringat akan suara-suara mentah yang dihasilkan oleh band-band rock paska-grunge yang bermunculan pada sekitar tahun 2000-an, sedangkan Ikrar justru menilai hal tersebut mirip dengan gaya bermusik Arctic Monkeys. Apapun itu, musiknya yang lebih keras daripada lagu metal manapun cukup keras anehnya juga mampu mengundang tarian-tarian kecil saya.

Bisingnya permainan gitar yang diperdengarkan oleh Aldrian Risjad tersebut selanjutnya terus dihadirkan di sepanjang penampilannya sampai-sampai “Help You Out” pun tak luput disertai olehnya. Walaupun menurut saya ode tersebut akan lebih mengundang rasa haru jika dibawakan dalam set akustik, beberapa gerakan menghapus air mata yang sempat saya tangkap rasanya menjadi indikasi bahwa muatan lagu tersebut tetap dapat tersampaikan tanpa harus terdengar sendu.

Gambar 5. Aldrian Risjad (dok. Haekal)

Selain membawakan lagu-lagu yang sebelumnya telah dirilis sebagai tunggalan, sesuai dengan yang telah diumumkan, Aldrian juga membawakan lagu-lagu lain yang akan ia muat dalam album perdananya mendatang. Tak hanya lagu-lagunya sendiri, Aldrian juga sempat menyelipkan cover dari “Pikiran dan Perjalanan” milik Barasuaka, eh, Barasuara sebagai lagu yang termasuk dalam rangkaian penutup penampilannya.

・・・

Selepas persiapan yang cukup lama, dengan tanpa saya sangka “Membasuh” dibawakan oleh Hindia sebagai lagu yang mengawali penampilan yang telah ditunggu-tunggu pada malam tersebut. Selayaknya yang terdengar dalam albumnya, lagu dengan gaya musik paling minimalis itu pun hanya diiringi secara sederhana oleh permainan gitar akustik yang kali ini dimainkan oleh Rayhan Noor. Suasana hangat yang dihasikan oleh lagu pembuka tersebut semakin terasa saat Baskara dan Rayhan memilih untuk membawakannya dengan duduk di bibir panggung.

Rayhan Noor - Tur Bayangan Semarang
Gambar 6. Rayhan Noor (dok. Ikrar)

Jari-jemari Tristan yang sebenarnya telah secara samar-samar turut menyumbangkan aksen permainan keyboard dalam bagian akhir “Membasuh” selanjutnya dibiarkan bebas menari sebagai perantara menuju “Rumah ke Rumah”. Tak kalah dengan “Membasuh”, lagu yang mengawali tampilnya seluruh personel Lomba Sihir tersebut juga disambut oleh riuhnya nyanyian penonton. Salah satu lagu favorit saya tersebut kemudian disusul oleh lagu favorit saya yang lain, yakni “Untuk Apa/Untuk Apa?”. Tak berbeda dengan versi hasil rekamannya, kedua bagian berbeda dari lagu tersebut tetap dibawakan secara saling menyambung.

Sesaat sebelum “Apapun Yang Terjadi” mulai dibawakan, Tristan mulai memamerkan kardus berisi sembako yang telah ia janjikan dengan cara membawanya berkeliling di atas panggung. Saya tak dapat melihat secara jelas apa-apa saja yang selanjutnya diambil dari kardus tersebut dan dilemparkan oleh Baskara dan Natasha Udu selama bagian awal lagu, namun jikalau boleh menebak rasanya sembako yang dimaksud oleh Tristan adalah sekumpulan makanan ringan.

Natasha Udu - Tur Bayangan Semarang
Gambar 7. Natasha Skincare (dok. Haekal)

“Besok Mungkin Kita Sampai” kemudian menjelang “Apapun yang Terjadi” hingga akhirnya suasana mulai kembali tenang saat Tristan dibiarkan kembali menunjukkan kepiawaiaannya seorang diri. Tak disangka, denting-denting sendu tersebut dilancarkan guna mengawali lagu dengan nuansa yang serupa, yakni “Belum Tidur”. Mengiakan permintaan Baskara, kerumunan pada malam tersebut berusaha untuk menggantikan suara Sal sembari mengayunkan lampu kilat gawai yang menyala.

Penonton Tur Bayangan Semarang
Gambar 8. Penonton dan Lampu Kilat Mereka (dok. Haekal)

Berlangsung bertepatan dengan perayaan hari Valentine, tak lantas membuat pasangan yang hadir mencoba melakukan reka ulang adegan Kale dan Awan saat Baskara membawakan “Secukupnya”. Walaupun begitu, digunakannya lagu tersebut sebagai salah satu lagu tema dalam NKCTHI rasanya membuat lagu tersebut menjadi lagu Hindia yang paling populer. Hal ini dapat dilihat dari keberhasilan lagu tersebut dalam memunculkan koor teramai sepanjang pertunjukan.

Hindia - Tur Bayangan Semarang
Gambar 9. Hindia (dok. Haekal)

Seusai “Secukupnya”, suasana tiba-tiba dibawa ke dalam keheningan saat Baskara dan Natasha Udu mendesis secara pelan ke pelantang suara di hadapan mereka. Aksi tersebut, rupanya, merupakan upaya Baskara untuk mengejawantahkan lirik dari “Evakuasi”. Dijelangnya nomor pembuka dalam Menari dengan Bayangan tersebut dengan “Jam Makan Siang” selanjutnya membuat saya semakin terkesan saat mendapati kedua lagu hasil produksi yosugi tersebut ternyata ditempatkan beriringan dalam setlist malam tersebut.

Hindia - Tur Bayangan Semarang
Gambar 10. Hindia (dok. Ikrar)

Serangkaian atraksi komedik yang dilancarkan setelah “Dehidrasi” dan “Mata Air” selanjutnya digunakan sebagai upaya mendekatkan diri kepada penonton sekaligus sebagai masa rehat bagi gerombolan Lomba Sihir dan Hindia. Walaupun beberapa gurauan terasa dipaksakan, namun hal tersebut nyatanya tetap saja mampu membuat saya cukup terhibur.

Hindia - Tur Bayangan Semarang
Gambar 11.Berjualan Air Mineral (dok. Haekal)

“Tinggalkan di Sana” dan beberapa lagu edisi natal dari Hindia selanjutnya menyelingi nomor-nomor dari Menari dengan Bayangan sebelum rangkaian penampilan mereka pada malam tersebut ditutup dengan “Evaluasi”. Penggunaan penggalan “Walau pedihku bersamaku kali ini, ku masih ingin melihatmu esok hari” yang disertai turun dan masuknya Baskara ke dalam kerumunan penonton untuk beberapa saat menjadi gerakan penutup yang saya nilai cukup pamungkas.

Hindia dan Lomba Sihir - Tur Bayangan Semarang
Gambar 12. Hindia dan Lomba Sihir (dok. Haekal)

Pengapnya auditorium yang digunakan sebagai venue dan tata panggung yang terkesan sederhana sebab minim visual mungkin menjadi kekurangan dari gelaran Tur Bayangan malam tersebut. Walaupun begitu, suguhan set panjang yang disertai dengan beragam aksi dari Hindia dan Lomba Sihir mampu membuat saya merasa cukup puas sehingga kekurangan yang telah disebutkan rasanya tak perlu saya hiraukan.

Kamu Mungkin Suka

0 comments