Seringai - Seperti Api (Ulasan)

07 Januari

Sebuah album yang menyampaikan kritik sosial melalui hantaran api yang membara

Pembukaan

Saya bukan pendengar setia Seringai, bahkan saya hanya mendengarkan Taring dan Serigala Militia secara sambil lalu. Namun, di kala pertama kali mendengarkan “Selamanya” dan “Adrenalin Merusuh”, pesona dari energi yang dibawakan di dalamnya membuat saya terpicu untuk mendengarkan album ini secara utuh.

Kover album Seperti Api
Gambar 1. Kover album Seperti Api

Semua nomor dalam album ini dibawakan dengan begitu panas dan membara selayaknya judul yang diberikan. Menariknya, distorsi dan dentuman yang menggebu tersebut dapat dihadirkan ke dalam beberapa muatan yang berbeda, antara lain semangat berkarya, kritik sosial dan politik, dan bahkan gairah seksual.

Pembedahan

Seperti Api diawali oleh “Hidejokasuru”, sebuah nomor instrumental yang dibangun perlahan; semakin lama semakin terdengar berat, sehingga terkesan seperti sebuah aba-aba untuk mempersiapkan pendengaran.. Nomor ini semakin ke akhir semakin penuh distorsi, namun tanpa lupa menyelipkan sedikit bagian melodius dan seakan-akan menjadi penggambaran akan keseluruhan sound dari sisa album ini.

Setelah nuansa mulai panas, Seringai kembali memperkenalkan diri kepada pendengar melalui “Selamanya”. Lagu ini menyatakan bahwa Seringai adalah sebuah band yang terus bertahan semata-mata karena dibahanbakari oleh renjana (passion). Perkenalan ini masih dilakukan melalui “Adrenalin Merusuh” pada nomor ketiga yang menceritakan pahit-manisnya keseharian Seringai sebagai sebuah kelompok musik.

Selesai dengan pengenalan kembali identitas Seringai, tema sosial mulai tampak pada “Persetan”. Lagu ini terus dipacu guna mengungkapkan rasa muak terhadap fasisme dan paham-paham lain yang membuat keadaan sosial menjadi kacau, sehingga terdengar selayaknya mengacungkan jari tengah di antara padatnya kerumunan penganut paham-paham tersebut.

Usai mengutarakan rasa muak terhadap penyebab carut-marutnya keadaan sosial pada masa ini, “Enam Lima” mengajak kita kembali menilik masa silam tersebut. Sejarah kelam di tanah air, dimana pembantaian terhadap suatu kelompok masyarakat disahkan lakunya oleh “sang Jenderal Jagal”, terjadi pada masa tersebut. Banyak cara untuk meraih kekuasaan dan ini merupakan salah satu yang dikecam oleh Seringai.

Setelah menilik waktu lampau pada nomor sebelumnya, “Disinformasi” menarik kita untuk kembali menyoroti problematika dewasa ini, dimana hoax tersebar dengan mudah melalui internet. Berita bohong mungkin terkesan sebagai sebuah masalah yang sepele, namun oleh dalang-dalang tertentu hal ini dapat dengan mudah digunakan untuk menggiring opini publik.

Dampak negatif lain dari internet adalah penggunaan media sosial sebagai sebuah sarana untuk melakukan debat kusir. Media sosial mengubah cara kita dalam melakukan komunikasi, sehingga kita jadi terlalu leluasa dalam mengutarakan pendapat dengan seenaknya sembari berlindung di balik topeng digital. Hal ini menjadi permasalahan yang dibahas oleh Seringai dalam “Seteru Membinasa” pada urutan ketujuh.

Boxset Seperti Api
Gambar 2. Boxset Seperti Api (dok. Seringai di Instagram)

Selain tema-tema yang dekat dengan kondisi sosial masa ini, terselip “A.I.” yang sepertinya terinspirasi oleh fiksi-sains dimana kecerdasan buatan mengambil keputusan yang ekstrim-salah satunya adalah Skynet dalam Terminator. Patut diakui, teknologi yang semakin lama menjadi semakin maju juga membawa dampak-dampak yang membuat kita jadi paranoid. Salah satu dampak negatif dari kemjuan teknologi adalah penyalahgunaan data pengguna dan fitur lokasi.

Di tengah pacuan amarah yang terus dilancarkan, “Ishtarkult” mengajak kita sejenak mengendurkan urat dengan hanyut ke dalam salah satu nikmat duniawi. Dalam satu-satunya nomor bertempo sedang ini, kehadiran Danilla sebagai vokalis tamu semakin memberikan penggambaran yang tepat atas tema sensual yang coba dihadirkan. Selain hal tersebut, geraman Arian digantikan oleh sebuah vokal dengan cara bernyanyi yang keluar dari pakem Seringai dan membuat lagu ini semakin mencolok.

Seusai beristirahat, “Sekarang atau Nanti” kembali menanjak dalam ketukan cepat sembari kembali mengutarakan keresahan yang dirasakan oleh Seringai atas keadaan sosial masa ini. Rasisme menjadi isu yang secara menyedihkan selalu ada dalam setiap zaman, sehingga dalam lagu ini Seringai berharap agar paham penuh diskriminasi ini dapat menghilang dengan sesegera mungkin dari muka bumi.

Selain “Ishtarkult”, sebuah nomor yang mencolok kembali hadir dalam “Bebal”. Dentuman dalam lagu ini membawa sedikit pengaruh post-punk ke dalam Seperti Api. Gaya permainan dance-y ini nampaknya merupakan salah satu hal yang diserap oleh Arian cs. dari teman se-label-nya, Pelteras. Selain hal tersebut, variasi dari segi lirik juga nampak berkat syair-syair pesimitis yang ada di dalamnya.

Panasnya album ini pada akhirnya ditutup oleh “Omong Kosong”. Dalam nomor terakhir ini, Seringai meneriakkan kata “omong kosong” sebagai sindiran atas beberapa ucapan yang memiliki tema meliputi politik yang kotor, rape culture, hingga resolusi-resolusi yang terkesan omong tok.

Penutup

Secara keseluruhan, Seperti Api menawarkan kritik-kritik sosial yang padat dan dihantarkan melalui amarah yang meluap-luap, sehingga saat selesai mendengarkan album ini pendengar dapat merasa lega karena segala emosi dan kemuakan dapat tercurahkan. Selain dampak tersebut, mendengarkan Seperti Api dapat menjadi sebuah hiburan tersendiri di kala sedikit porsi humor yang berusaha disajikan tertangkap oleh telinga.


・・・


Sila simak video favorit saya dari album Seperti Api di bawah.


Baca Pula

0 comments