Tunggalan Pilihan: September 2019


Tunggalan Pilihan: September 2019

Sebagai pendukung untuk rilisan berupa album, EP, maupun mini album, beberapa lagu biasanya dilepas secara terpisah dan disebut sebagai tunggalan (single). Namun, tak jarang pula, sebuah tunggalan memang hanya dimaksudkan untuk menjadi sebuah lagu lepas yang tak akan dimuat dalam koleksi apapun. Hal ini pun wajar adanya, sebab melepas sebuah tunggalan memakan waktu, tenaga, dan biaya yang relatif lebih sedikit dibandingkan saat harus merilis sebuah koleksi.

Karena kemudahan tersebut, dalam kurun waktu satu bulan saja mungkin terlalu banyak tunggalan yang tersedia untuk didengarkan. Saking banyaknya, mungkin saja meluangkan waktu untuk memilih beberapa tunggalan yang menarik sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu, melalui rubrik ini kami bermaksud untuk merangkum beberapa tunggalan menarik yang dirilis dalam kurun waktu satu bulan dengan harapan juga akan turut Anda sukai.

Berikut adalah senarai tunggalan yang dirilis sepanjang September 2019 pilihan redaksi suaka suara.



1. Efek Rumah Kaca – “Tiba-tiba Batu”

Efek Rumah Kaca – “Tiba-tiba Batu”
Seakan telah dapat melepaskan diri dari bayang-bayang Pandai Besi, dalam tunggalan pembuka bagi mini album mendatang mereka ini, ERK kembali menggunakan musik pop guna sebagai sarana untuk menyampaikan kritik yang menyentil. Sesuai dengan judulnya, dalam tunggalan ini ERK menggunakan batu sebagai simbol dari sifat keras kepala yang kian mewabah dalam berbagai adu argumen. Hal ini disayangkan oleh ERK sebab sifat keras kepala tersebut terkadang tidak disertai oleh dasar pengetahuan yang kuat.

2. Hindia – “Dehidrasi”

Efek Rumah Kaca – “Tiba-tiba Batu”
Minggu lalu, moniker dari Baskara Putra ini kembali melepas tunggalan berjudul "Dehidrasi". Melalui unggahan media sosialnya, ia berjanji bahwa "Dehidrasi" akan menjadi tunggalan terakhir sebelum Membasuh, album penuh perdana yang kini telah rampung digarap, dirilis sebelum akhir tahun ini.

"Dehidrasi" bercerita tentang keluhan Baskara tentang orang-orang yang datang ketika ada butuhnya saja, tentang media yang kurang riset mendalam sehingga selalu mengajukan pertanyaan membosankan, dan tentang lingkungan pergaulan yang harus dipilih dengan lebih selektif.

Dalam tunggalan ini Baskara menggandeng Petra Sihombing, produser tetap album perdana Hindia, guna menyumbangkan isian permainan gitar. Dibawakan dengan tempo upbeat, "Dehidrasi" seolah ditujukan guna mengundang tarian riang dalam menyambut Membasuh.

3. Kurosuke – “Roses”

Kurosuke – “Roses”
Selepas album perdananya, pria bernama asli Christianto Ario ini sepertinya mulai bergerak meninggalkan tema-tema sendu. Alasannya tak pernah jelas, hingga akhirnya mulai ditampakkan baik secara harfiah maupun figuratif melalui tunggalan terbarunya yang juga disertai sebuah video lirik ini.  Melanjutkan tema yang telah ia muat dalam tunggalan sebelumnya, “Roses” dimaksudkan sebagai sebagai ungkapan rasa syukur atas beberapa kebahagiaan yang kini muncul dalam hidupnya.

4. The Japanese House – “Something Has to Change”

The Japanese House – “Something Has to Change”
Sesuai dengan judulnya, Amber Bain mencoba menawarkan sedikit perubahan dalam tunggalan utama EP mendatangnya ini. Perubahan tersebut terdengar jelas melalui lirik yang kini justru memberikan pesan positif alih-alih hanya dipenuhi oleh kesedihan. Walaupun tema lirik yang dimuat terasa berubah secara signifikan, namun tata suara luas dan detail yang tampak dalam Good At Falling masih menjadi ciri yang berusaha dipertahankan.

5. DIIV – “Blankenship”

DIIV – “Blankenship”
DIIV kembali dengan materi yang dapat dikatakan cukup radikal. Menyusul “Skin Game” dan “Taker”, “Blankenship” dipilih untuk menjadi tunggalan ketiga dari Deceiver yang pada rencananya akan dirilis pada 4 Oktober 2019. Tunggalan yang dilepas pada 18 September 2019 ini terdengar berbeda dari nomor-nomor dalam Is the Is Are (2016) yang memuat tema personal dan penuh suara surgawi, sebab nyanyian lembut dari Zachary kini dipadukan dengan karakter suara post-punk yang dihadirkan melalui bassline tebal dan atmosfer horor. Penggalan "Destroy those who destroy the earth!" membuat tunggalan ini seolah dimaksudkan sebagai seruan untuk mengkritik korporasi yang merusak lingkungan.

6. M83 – “Temple of Sorrow”

M83 – “Temple of Sorrow”
Tiga tahun setelah merilis Junk, M83 kembali dengan melepas DSVII (Digital Shades Vol. II) yang diamksudkan sebagai sekuel dari Digital Shades Vol. 1 (2007). “Temple of Sorrow” menjadi tunggalan pertama dari album yang dirilis tepat pada 20 September 2019 tersebut. Suara ambient pelan nan menenangkan pada tiga menit awal yang kemudian dilanjutkan dengan buildup sinematik  membuat tunggalan ini terdengar layaknya musik pengiring dalam film dan permainan video bertema petualangan luar angkasa.

7. Have a Nice Life – “Lords of Tresserhorn”

Have a Nice Life – “Lords of Tresserhorn”
Setelah mangkir selama 5 tahun, Have A Nice Life mempertegas maksudnya untuk kembali muncul ke permukaan dengan melepas tunggalan anyar berjudul “Lords of Tresserhorn” pada bulan September, satu bulan setelah pelepasan “Sea of Worry”. Namun, berbeda dengan tunggalan sebelumnya yang mengajak berdansa resah, “Lords of Tresserhorn” terdengar abstrak dan bising layaknya Deathconsciousness (2008). Kembalinya vokal samar-samar berbalut reverb dan komposisi yang dibangun secara perlahan membuat tunggalan ini menjadi bukti bahwa Have A Nice Life tak kehilangan identitas seusai melepas “Sea of Worry”, tunggalan yang sayangnya terdengar layaknya musik post-punk pada umumnya.

8. Alcest – “Sapphire”

Alcest – “Sapphire”
Alcest, salah satu pionir blackgaze asal Prancis, melepas tunggalan kedua dari album Spiritual Instinct yang rencananya akan dirilis pada 25 Oktober 2019 mendatang. Berbeda dengan “Protection”, tunggalan ini terdengar lebih atmosferik dan indah, sebab ambient, vokal lembut Neige, dan distorsi gitar dalam lagu ini terasa saling melengkapi dan menghasilkan komposisi yang seimbang. Walaupun sekilas terdengar tak seganas tunggalan sebelumnya, “Sapphire” tetap memasukkan teriakan khas Alcest yang terdengar penuh amarah dan seolah digunakan untuk melepaskan semua beban pada bagian akhir lagu.

9. Touché Amoré – “Deflector”

Touché Amoré – “Deflector”
Setahun selepas "Green",  Touché Amoré merilis tunggalan anyar berjudul "Deflector”. Dalam tunggalan yang akan tersedia dalam format piringan hitam 7” ini, mereka meminta campur tangan Ross Robinson (The Cure, Slipknot, Sepultura) guna menjadi produser. Campur tangan ini pada akhirnya membuat Touché Amoré berhasil memberikan rasa baru ke dalam diskografi mereka, setidaknya jika dibandingkan dengan Stage Four (2016). Walaupun menawarkan musik yang terdengar berbeda, lirik yang dinyanyikan oleh Jeremy dalam tunggalan ini masih bersifat personal dan menggambarkan ketidaknyamanan akan dirinya sendiri.