Reality Club for Real (A Gig Story)


Sabtu malam saya meminta bantuan seorang warga setempat bernama Hana (ya, betul, mbak-mbak yang sekarang jadi kurator utama rubrik Where to Go) guna menunjukkan arah menuju venue yang kali ini bertempat di Stadion Diponegoro. Dan ya, karena pada edisi lalu pun saya tidak melakukan k e b o d o h a n ini, rasanya saya dan kalian akan mulai merindukan segmen nyasar dalam rubrik ini. Walaupun begitu, tetap saja, pada akhirnya kami memilih untuk membuntuti mas-mas dengan tampilan siap-gigs karena terus-menerus memperhatikan aplikasi navigasi merupakan kegiatan yang melelahkan.

Poster Fantastic 4.0
Gambar 1. Poster event

Sesampainya di venue dan menukar karcis parkir seharga 600 dengan uang sejumlah 5000, Hana yang orangnya ngeyelan sehingga akhirnya harus membeli tiket OTS dan saya yang orangnya selalu sigap dalam mengamankan tiket presale mengantre pada barisan yang berbeda. Seharusnya tak ada yang spesial selama mengantre namun kemudian dari sisi belakang saya tanpa sengaja terdengar, “aku tuh sebenernya mau pake jaket jeans gitu loh, tapi aku kan bukan anak indie,” yang sontak membuat saya sedikit kesal. Pasalnya, saya yang notabene sedang mengenakan jaket jeans berada tepat di depan mereka. Memang sah-sah saja kalau mau membicarakan orang di belakang, tapi sepertinya tidak sopan jika dilakukan dalam jarak sedekat itu. Lagian, siapa sih yang mencetuskan stereotip ngawur ini?

Tak hanya sampai di sana, saat akan masuk pun saya dan Hana masih terpisah, sebab ternyata antrean untuk akhi dan ukhti dibedakan. Bukan, bukan karena bukan muhrim, namun hal ini mungkin dilakukan sebab petugas pemeriksa keamanan untuk laki-laki dan perempuan berbeda. Pembagian ini justru mulai terlihat aneh saat saya mendapati bahwa antrean perempuan disediakan hingga sebanyak 3 lajur, sedangkan antrean laki-laki disediakan hanya sebanyak 1 lajur. Setelah mencoba sedikit menerka akhirnya saya mulai berpendapat bahwa ini merupakan hal yang wajar terjadi, sebab bintang utama dari event kali ini adalah  FIERSA BESARI (sengaja ditulis dalam huruf BESAR). Kemilitanan bucin beliau ini nantinya akan lebih terasa dalam bagian akhir tulisan ini.


・・・


Sesampainya di dalam, kerumunan yang semula terlihat lengang akhirnya memadat setelah beberapa orang mulai terasa ngesuk-ngesuk guna menghampiri dan berkumpul dengan temannya saat Figura Renata mulai tampil. Hal ini tak terlalu mengganggu bagi saya, namun Hana yang tingginya tak seberapa itu pun akhirnya harus sibuk mencari celah di antara bahu dan leher yang tiba-tiba menjulang di hadapannya.

Sepanjang penampilan Figura Renata, saya yang merasa sedikit bosan untuk menyaksikan mereka pun memilih untuk mengamati visual yang mereka sajikan pada malam tersebut. Namun sayang, beragam visual yang bersesuaian dengan lagu yang sedang dibawakan tak nampak dan tergantikan oleh logo band yang ditampilkan secara statis. Sayang dan lagi-lagi sayang, gaya materi visual yang terlalu sederhana tersebut nantinya juga akan ditampilkan oleh Kayla dan FIERSA BESARI, namun untungnya tidak oleh Reality Club.

Figura Renata - Fantastic 4.0
Gambar 2. Figura Renata

Selepas Figura Renata, maka yang dijadwalkan untuk tampil berikutnya adalah Kayla. Pada malam tersebut, gadis yang wajahnya sekilas mirip dengan Raisa ini membawakan cover dari “Versace on the Floor”, “You Are The Reason”, dan “Shallow” sembari tak lupa juga membawakan “Tak Bersyarat” dan “Just be Friends” yang notabene merupakan lagunya sendiri. Saya baru pertama kali menyaksikan Kayla dan pun bukan ananghijau namun kalau boleh berpendapat, walaupun secara tampilan ia telah cukup menarik untuk menjadi seorang bintang pop, namun belum ada pesona khas yang memikat saat ia bernyanyi. Hal ini pun membuat penampilannya terasa sedikit tawar. Maaf apabila terdengar sedikit judging, tapi setidaknya tak sefrontal mbak-mbak sebelah yang bersorak sinis ketika Kayla mengumumkan akan menutup penampilannya.

Kayla - Fantastic 4.0
Gambar 3. Kayla

Selepas Kayla, band yang saya tunggu-tunggu pun akhirnya bersiap untuk tampil sembari diringi “Prologue”. Beruntung, atau malah tidak, kerumunan yang sepertinya lebih menunggu penampilan FIERSA BESARI pun memilih untuk duduk. Saya pun akhirnya dapat menikmati sudut pandang yang lebih nyaman saat menyaksikan Reality Club, namun mengetahui bahwa kerumunan sekitar tidak turut antusias untuk menyaksikan mereka membuat saya merasa sedikit kecewa di saat yang sama. Mungkin saya sebaiknya berada di barisan depan yang kabarnya sempat menjadi wahana crowdsurf, namun rasanya tetap di situ pun tak apa sebab saya justru dapat lebih leluasa joget-joget diam sepanjang penampilan Reality Club.

Reality Club - Fantastic 4.0
Gambar 4. Reality Club

Dalam penampilannya pada malam tersebut, Reality Club menyuguhkan porsi besar dari What Do You Really Know? dengan membawakan antara lain “S.S.R.”, “Telenovia”, “On My Own, Again”, “Alexandra”, dan “2112”. Suara yang mereka tampilkan pada malam tersebut sama “mentah”-nya dengan apa yang disajikan dalam album kedua mereka, namun saya tak menyangka bahwa gaya suara tersebut akan tetap konsisten digunakan saat turut membawakan “Elastic Heart” dan “Is It The Answer?” yang notabene berasal dari album dengan suara yang lebih “terproses”. Perubahan tata suara yang cukup signifikan ini kemudian membuat saya tergelitik untuk bertanya pendapat para fans lama mereka mengenai hal tersebut.

Reality Club - Fantastic 4.0
Gambar 5. Reality Club

Selain suara “mentah” yang untungnya terfasilitasi dengan baik oleh tata suara pada malam tersebut, poin lain yang membuat saya semakin terpukau saat menikmati penampilan mereka tentunya adalah visual yang terlihat dipersiapkan dengan baik. kittendust memang selalu fabulous, tetapi yang saya maksud adalah backdrop yang digunakan bukan hanya untuk secara statis menampilkan logo band, melainkan juga digunakan untuk menampilkan cuplikan dari video musik/video lirik dari masing-masing nomor yang sedang dibawakan.

Reality Club - Fantastic 4.0
Gambar 6. Reality Club

Selepas Reality Club, maka panggung pun diserahkan kepada FIERSA BESARI. Baik, saya memang bukan hadir untuk menyaksikan beliau, tapi apa salahnya tetap tinggal? Setidaknya itu pemikiran saya hingga akhirnya kerumunan yang tiba-tiba melaju maju dan turut menyeret saya dan Hana. Kerapatan yang tiba-tiba meningkat dua kali lipat ini kemudian turut disertai euforia massal yang ditandai oleh lengkingan dedek-dedek gemes yang menyambut FIERSA. Keadaan ini berlangsung sepanjang penampilan beliau hingga akhirnya saya pun merasa kurang nyaman sebab harus berulang kali berusaha untuk melindungi gendang telinga saya. Walaupun agak keterlaluan, saya tetaplah salut, sebab crowd seperti ini jauh lebih seru untuk dinikmati.

Fiersa Besari - Fantastic 4.0
Gambar 7. Fiersa Besari

Penutup

Banyak yang berkata bahwa dalam What Do You Really Know? Reality Club terdengar hampir persis seperti influens mereka dan selama menyaksikan penampilan mereka pada malam tersebut pun saya akhirnya menangkap beberapa kemiripan yang dimaksud. Walaupun begitu, tetap saja perubahan yang mereka muat dalam album kedua mereka merupakan suatu hal yang berhasil mengundang saya untuk tak lagi melewatkan penampilan mereka di Semarang. Selain akhirnya dibuat terhibur oleh suara baru yang mereka sajikan, visual album yang sebagian besar diberikan kesan seram dan menggoda melalui dominansi warna merah pun ditampilkan dengan baik sepanjang penampilan mereka sehingga saya pun merasa semakin dimanjakan.