.Feast — Uang Muka (Ulasan)

26 September

Peran aktif kelima personel membuat Uang Muka menjadi seru dan jauh lebih guyub dibandingkan dengan diskografi mereka sebelum-sebelumnya.
Dibayar lunas oleh .Feast dengan seru dan lebih berwarna
.Feast - Uang Muka
Gambar 1. Sampul Uang Muka (dok. Genius)

Pernahkah Anda menyukai suatu musisi karena kerutinan mereka merilis karya dalam waktu berdekatan, sehingga waktu seakan-akan berjalan dengan sangat singkat—perpindahan era dari album ke album secepat kilat—padahal sejatinya telah berlalu bertahun-bertahun lamanya? Pengalaman tersebutlah yang saya rasakan terhadap .Feast. Genap tiga tahun semenjak saya pertama kali mendengarkan album perdana Multiverses, seminggu yang lalu, secara tiba-tiba, mereka merilis album mini Uang Muka. Telinga rasanya masih belum bisa rehat dari eksplorasi liar nan menyenangkan di Multiverses, namun kini ia dipaksa untuk kembali menjajal karya baru mereka. Terkesan kejar setoran? Hmmm… sebaiknya kita tilik lebih dalam lagi terlebih dahulu.

Dikutip dari siniar Noisewhore dengan kuintet asal Jakarta ini sebagai bintang tamu, pada Juli lalu para personel .Feast bertemu guna menyusun rencana bagi sebuah rilisan anyar. Layaknya yang sudah-sudah, Baskara dkk. merancang tema besar bagi Uang Muka, yang disepakati akan menyuarakan unek-unek mereka mengenai sulitnya mengisi pundi-pundi di tengah pandemi. Masing-masing personel lantas diberi tugas untuk menggodok bagiannya masing-masing sebelum akhirnya dikumpulkan ke dalam koleksi berupa album mini. Oleh karena itu, berikut adalah gambaran besar yang dapat saya berikan: Uang Muka merupakan sebuah album mini yang seru dan jauh lebih guyub dibandingkan dengan Beberapa Orang Memaafkan maupun tunggalan-tunggalan setelahnya. Sebab, kelima personel terlibat aktif dalam proses rekaman pun penulisan. Tak selayaknya rilisan-rilisan lalu yang masih Baskara-sentris terutama dari segi penulisan lirik.

・・・

Kata Pengantar oleh Jason Ranti

Sebagai pengantar, meneruskan tradisi dari Beberapa Orang Memaafkan, album kembali dibuka oleh sebuah monolog wejangan yang dituturkan seorang tokoh musik terkemuka. Jason Ranti, yang kali ini bertugas mengoceh, memberikan sebuah kata pengantar dengan muatan lucu dan spontan khas dirinya. "Ini negara sudah lama tidak woyo," begitu ujarnya.

Dapur Keluarga

Nomor ini ditulis dan diproduseri oleh Baskara Putra. Berlawanan dengan kebiasaannya dalam menggunakan .Feast sebagai sarana untuk menyerukan keresahan banyak orang, kali ini ia menuliskan kegusaran pribadinya terhadap uang. Di dalamnya, ia menyanyangkan betapa semakin hari orang-orang semakin enteng memanfaatkan kesusahan dan penderitaan orang lain sebagai jalan untuk memperkaya diri. Poin menariknya adalah, dalam siniar bersama Noisewhore, Baskara mengaku bahwa lagu ini cenderung berakhir mengkritik diri sendiri, alih-alih menudingkan telunjuk kepada orang layaknya rilisan-rilisan sebelumnya.

Dari segi musikal, disokong oleh vokal Baskara yang dipresentasikan secara lebih renyah, nomor ini bisa jadi merupakan yang paling mudah digemari, sebab dapat membangkitkan kenangan terhadap era kejayaan God Bless dulu.



Komodifikasi

Nomor kedua yang juga menjadi tunggalan utama dari Uang Muka ini ditulis oleh Adnan dan dipulas oleh Baskara beserta Wisnu Ikhsantama. Utamanya, "Komodifikasi" merupakan kekesalan Adnan terhadap fenomena pemengaruh di media sosial yang kerap mengobral apapun demi penghambaannya terhadap uang. Nomor ini pun secara tak langsung berakhir mengkritik diri mereka sendiri, yang mungkin sesedikit-sedikitnya telah masuk ke dalam jurang tersebut.

Penggarapan video musik bagi tunggalan ini dipercayakan kepada tangan Yudhistira Israel alias VNGNC, sebab menurut .Feast ia memiliki amarah yang seiras terhadap isu yang diangkat dalam "Komodifikasi"—sila lihat di serial WTF Indonesia yang ia buat di Youtube.



Cicilan 12 Bulan (Iklan)

Nomor ini diotaki secara utama oleh Fadly Fikriawan alias Awan (tapi bukan NKCTHI). Seluruh instrumen pun direkam di studio Wisnu oleh dirinya sendiri. Menurut Baskara, demo yang dikirim Awan bahkan tak perlu banyak polesan.

Diwarnai oleh sketsa ringan pada bagian outro yang dibawakan oleh Awan bersama kekasihnya Natasha Udu, "Cicilan 12 Bulan" berisi petuah yang ditujukan bagi dirinya sendiri yang telah terpapar oleh budaya konsumerisme, sehingga kesulitan untuk menabung padahal telah membanting tulang dalam beragam bentuk pekerjaan.

Dari segi musikal, nomor yang agaknya memuat pengaruh Arctic Monkeys, selayaknya "Minggir" dalam Beberapa Orang Memaafkan, ini merupakan yang paling atraktif, sebab komedi-komedi dari Awan menjadi hal yang paling menonjol darinya—lakon-lakon lucu yang bertebaran di sepanjang lagu akhirnya menyikat porsi musik .Feast.

Belalang Sembah

Kursi penulis dan produser selanjutnya diberikan kepada Dicky Renanda, sang gitaris. Di dalamnya, termuat masalah mengenai asmara dan pengorbanan finansial yang ditimbulkan dalam hubungan yang tercipta. Belalang sembah lantas dipilih sebagai metafora atasnya, sebab dalam proses kawinnya si jantan bahkan rela menyerahkan nyawa agar si betina dapat menghasilkan keturunan. Diangkatnya tema tersebut lantas dapat menjadi alasan untuk menyebut nomor ini sebagai lagu cinta pertama dari .Feast. Walaupun sebenarnya mereka telah menjadi fenomena pop semenjak dirilisnya Beberapa Orang Memaafkan, bersamaan dengan "Cicilan 12 Bulan", nomor yang semakin pop sebab berbicara mengenai asmara ini—sebab kapan lagi sih mereka akan melakukannya—saya tetapkan sebagai lagu favorit saya dari Uang Muka.

Kembali ke Posisi Masing-Masing

Keempat personel lain telah diberikan kesempatan untuk memamerkan karya mereka dalam nomor-nomor sebelumnya. Oleh karena itu, nomor terakhir dari Uang Muka tak lain tak bukan merupakan buah dari Ryo Bodat, sang drummer. Beserta kritikan terhadap mayoritas milenial yang bergaya hidup setinggi langit namun tak pernah mampu membeli tanah ataupun properti lainnya sampai akhir hayat yang disuarakan melalui liriknya, lagu yang menjadi kesempatan pertama bagi .Feast untuk menyuguhkan gubahan industrial metal/nu metal ini pun menjadi nomor paling keras dari Uang Muka—perlu dicatat bahwa "Blackwater/Multiverses" yang dimotori Bodat pun merupakan nomor yang gaduh.

Apa Boleh Buat

Melanjutkan "Kembali ke Posisi Masing-Masing" dan kembali menuturkan hasrat untuk memiliki properti namun dalam gaya balada, album mini ini ditutup oleh nomor yang ditulis sekaligus dinyanyikan oleh Bodat. Aksi ini tak cukup mengejutkan, sebab mereka yang pernah menonton video live .Feast di Kios Ojo Keos pasti mafhum bawa Bodat punya kemampuan vokal yang sebenarnya cukup mumpuni.

・・・

Sewaktu .Feast masih memberikan iming-iming album penuh selanjutnya berjudul Membangun dan Menghancurkan dengan melepas tunggalannya satu per satu, saya sempat berharap bahwa Baskara akan kembali melantunkan lirik-lirik berbahasa inggris selayaknya Multiverses. Namun, alih-alih memberikannya, mereka tiba-tiba membanting setir dan merilis Uang Muka tanpa konten-konten pemikat masif layaknya yang sudah-sudah. Lantas, tanpa sempat membangun ekspektasi apapun, beragam kejutan langsung disuguhkan dalam Uang Muka.

Eksperimen dari sisi musikal .Feast terakhir kali terjadi pada Multiverses, di mana nomor-nomor seperti "Watcher Of The Wall", "Tel Aviv", "Jerusalem", menjadi oasis yang sangat menyenangkan di antara akar .Feast yang sangat rock. Kali ini, dalam Uang Muka, "Cicilan 12 Bulan" dan "Belalang Sembah"lah yang mengisi bilik tersebut.

Secara garis besar, saya sangat menyukai album mini kedua mereka ini. Saya harap, Uang Muka dapat menjadi sarana pembelajaran berharga bagi mereka untuk menyusun nomor-nomor yang lebih menakjubkan dalam Membangun dan Menghancurkan nantinya.

Kamu Mungkin Suka

0 comments