Salah Peradaban Takkan Bikin Mati (A Gig Story)


Poster Music Library 2019
Gambar 1. Poster acara (dok. Music Library)

Sabtu lalu, guna memperoleh kuitansi tiket prajual yang sebenarnya telah dapat diambil sejak beberapa bulan sebelumnya, saya tiba di Sam Poo Kong saat matahari mulai bersiap untuk terbenam sebab kabarnya mbak-mbak yang membawa kuitansi tersebut diharuskan menjalankan tugas lain selepas waktu tersebut. Datang terlalu awal sebenarnya kurang nyaman untuk dilakukan karena masa mau cengo diliatin patung Cheng Ho, tapi tak apa, toh akhirnya incaran pernak-pernik .Feast berupa kaos seri Kelelawar berwarna hitam yang terlewat saat dijual daring berhasil saya amankan.

Sembari menunggu, saya membeli segelas green thai tea dan memilih duduk di salah satu meja seorang diri hingga seketika seseorang memutuskan untuk duduk di sebelah saya dan mencoba membuka obrolan. Beberapa percakapan yang terjadi membuat saya mengetahui bahwa ia datang seorang diri hanya untuk menonton .Feast. Hal ini kemudian mendorong saya untuk memberikan saran agar ia bergabung dengan grup obrolan daring yang mewadahi Kelelawar kota Atlas guna menemukan teman untuk mengadiri perjamuan, istilah yang kerap dipakai saat .Feast beraksi di atas panggung, berikutnya. Setidaknya itu yang berusaha saya lakukan, hingga ia tiba-tiba beranjak dan berlari guna menghampiri ponselnya yang ternyata tertinggal di atas mesin ATM di area luar venue.

Sam Poo Kong - Music Library 2019
Gambar 2. Venue (dok. pribadi)

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh saat keempat anggota suara suara, eh, suka suara, eh, suaka suara hadir dan berkumpul sejenak sebelum akhirnya akan menyebar di kerumunan. Malam itu, Hana dan Aliya memilih untuk berbaur dengan memilih untuk mengenakan kaos .Feast, sedangkan saya dan Ikrar yang tidak mau ambil pusing untuk mencoba berbaur entah kenapa sama-sama berakhir mengenakan kaos Rekah, walaupun dengan desain yang berbeda. Girls, kalian melewatkan kesempatan untuk mengejek kami lebih jauh.

Economusic - Music Library 2019
Gambar 3. Economusic (dok.pribadi)

Gelaran pada malam tersebut nampaknya tidak berjalan tepat waktu, sebab tiga penampil utama pada malam tersebut memulai aksi mereka sekitar satu setengah jam lebih lambat dari susunan acara yang telah diumumkan. Hal ini lantas memaksa para penampil sekunder untuk berpacu dengan cetakan sisa waktu yang terus ditunjukkan ke arah mereka. Walaupun begitu, dua dari tiga penampil musik sekunder berhasil menarik perhatian saya yang kerap judging, sebab keduanya menonjolkan hal yang berbeda dalam hal unjuk karakter. Economusic membuat saya cukup mengernyitkan dahi setelah mempertanyakan ke arah mana sebenarnya mereka ingin membawa band tersebut sebab mereka memilih untuk memadukan “Sweet Disposition”, “Detourn”, hingga “Hey Jude” ke dalam satu setlist, sedangkan Socialist berhasil membuat saya terpukau dengan karakter mereka yang ditampilkan secara kuat melalui paduan lagu mereka sendiri, “R U Mine?”, hingga “All The Time” yang secara selaras dibawakan dalam gaya stoner rock.

Ten 2 Five - Music Library 2019
Gambar 4. Ten 2 Five (dok. Ikrar)

Saat akhirnya Ten 2 Five mulai tampil, seseorang yang berada di sebelah saya bertanya beberapa hal mengenai grup yang secara mengejutkan turut menggandeng Rafael Tan pada malam tersebut ini. Setelah bertukar beberapa kalimat, saya akhirnya menyadari bahwa wajar saja jika seorang anak yang saat ini baru menginjak bangku SMA tidak mengetahui Ten 2 Five dan bahkan tidak pernah mendengar “I Will Fly” dan “You” yang tentu saja dibawakan pada malam tersebut. Percakapan ini akhirnya membuat saya menyadari dua hal berikut: 1. saya sebenarnya rindu bertukar obrolan seputar musik bersama orang asing, dan 2. menyebalkan mengetahui bahwa pustaka musik yang berbeda tersebut dihasilkan oleh selisih usia sedikitnya 7 tahun. Baik. Saya hentikan di sini.

Ten 2 Five & Rafael Tan - Music Library 2019
Gambar 5. Ten 2 Five & Rafael Tan (dok. Aliya)

Selepas Ten 2 Five, “Apa Kata Bapak” berkumandang guna menyambut band yang saya rasa membawa massa paling militan pada malam tersebut: .Feast! Lagu yang disusun berdasarkan voice note dari Sir Dandy tersebut pun langsung disusul oleh “Kami Belum Tentu” yang tentu saja secara seketika memecahkan antusiasme penonton. Tentu saja beberapa hal yang sudah diperkirakan mulai nampak di sana: sing-a-long, crowdsurf, tarian, lompatan, seruan “Baskara!”, seruan “Bodat!”, seruan “Calisari Boy”, “seruan Awan”, hingga seruan “Diki”. Walaupun begitu, saya yang berada cukup dekat dengan barikade tak melihat adanya mosh-pit yang terbentuk.

Kelelawar - Music Library 2019
Gambar 6. Kelelawar (dok. Aliya)

Seakan telah diperhitungkan dengan baik, “Tarian Penghancur Raya” pun ditempatkan pada urutan selanjutnya. Penggunaan instrumen berubah secara sementara pada lagu ini, sebab Adnan beralih memainkan rebana sementara Awan beralih memainkan bass yang berupa synthesizer. Tak selesai di situ, seolah ingin memaksimalkan efek kejut yang ditimbulkan, Baskara yang menerima gitar dari Adnan didaulat memainkan solo gitar dalam lagu tersebut.

Adnan .Feast - Music Library 2019
Gambar 7. Calisari Boy (dok. Aliya)

Sejujurnya saya merasa kurang sreg dengan pemilihan dan penyusunan kata dari lagu ini, namun mengetahui bahwa Semarang menjadi yang pertama menyaksikan lagu ini dibawakan secara langsung membuat saya turut berbangga hati. Walaupun begitu, penyebutan nama Efek Rumah Kaca dalam liriknya membuat saya mulai membayangkan kondisi gelaran sebelah yang mungkin memiliki suasana yang lebih kondusif bagi penonton nyantai seperti saya, maupun bagi Ikrar dan kameranya.

Awan .Feast - Music Library 2019
Gambar 8. Awan (dok. Aliya)

Selepas “Tarian Penghancur Raya” penggunaan instrumen pun kembali seperti sedia kala. Posisi tersebut selanjutnya dipertahankan saat melanjutkan penampilan mereka dengan “Dalam Hitungan”, “Berita Kehilangan”, “Padi Milik Rakyat”, “Minggir!”, hingga “Peradaban”. Khusus pada lagu yang terakhir, sebenarnya saya diliputi perasaan waswas saat tak sengaja salah menyanyikan beberapa baris dalam liriknya, namun mendapati kerumunan sekitar tak menyadari hal tersebut hingga akhir lagu membuat saya dapat kembali bernapas dengan lega.

Walaupun porsi pada malam tersebut didominasi oleh lagu-lagu baru, namun tentu saja lagu pamungkas (lagu .Feast, bukan lagu Pamungkas (ini penting ga sih buat dijelasin?)) semacam “Kelelawar” dan “Sectumsempra” tak lupa untuk dibawakan guna menutup penampilan mereka.

.Feast - Music Library 2019
Gambar 9. .Feast (dok. Aliya)

Menyaksikan .Feast memainkan lagu mereka secara langsung sebenarnya cukup menghibur, terlebih lagi karena beberapa fanservice pun tak lupa dihadirkan oleh mereka, sebut saja Baskara dan Bodat yang melakukan crowdsurf singkat di akhir penampilan, Awan yang menyelipkan pantun saat intermezzo, hingga aksi Adnan yang menghampiri teman Aliya, Cindy (nama disamarkan), untuk menuliskan namanya pada rebana yang ia gunakan. Namun, karena nampaknya pada malam tersebut saya berada di posisi yang kurang tepat, saya akhirnya tak dapat sepenuhnya menikmati penampilan mereka.

Baskara .Feast - Music Library 2019
Gambar 10. Baskara (dok. Ikrar)

Selepas menyaksikan penampilan yang tetap saja menguras energi tersebut, saya dan Ikrar memilih untuk mundur sejenak dan mencari pelepas dahaga. Walaupun yang pertama disasar adalah air mineral, namun nyatanya kami harus menyerah melakukannya dan kembali membeli thai tea guna kembali menghidrasi tubuh. Mengkonsumsi dua gelas jenis minuman ini dalam sehari rasanya agak berlebihan, terutama jika tidak disertai makan malam yang layak, namun untuk kesempatan tertentu sepertinya tak apa.

Reza Artamevia - Music Library 2019
Gambar 11. Reza Artamevia (dok. Ikrar)

Saat akhirnya saya dan Ikrar kembali ke depan panggung, Reza tengah bersiap membawakan “Pertama” sebagai lagu kedua menyusul “Cintakan Membawamu Kembali” yang justru dipilih sebagai lagu pertama. Selepas kedua lagu tersebut, Reza pun melanjutkan penampilannya dengan membawakan beragam lagu yang telah beliau populerkan, hingga akhirnya tentu saja diakhiri dengan “Berharap Tak Berpisah” yang secara mengejutkan diiringi oleh beberapa tembakan confetti dan membuat gelaran malam tersebut dapat ditutup secara paripurna.

Reza Artamevia - Music Library 2019
Gambar 12. Reza Artamevia (dok. Ikrar)

Pada malam tersebut, seolah ingin melakukan pendekatan baru kepada generasi muda, Reza menghadirkan aransemen yang cukup sesuai dengan musik kiwari melalui hadirnya penggunaan sequencer. Hal ini mungkin saja menjadi penyebab kerumunan pada malam tersebut justru tetap didominasi oleh anak muda, walaupun juga dipenuhi oleh beberapa orang yang lebih berumur. Selain mencuri perhatian melalui musik yang dibawakan, aksi panggung beliau pun juga tak kalah menarik sebab saya cukup terkejut ketika mendapati beliau yang tak lagi muda masih menunjukkan sisi sensualnya saat tampil, walaupun seingat saya ibu pernah menyampaikan bahwa itu merupakan ciri khasnya.