Pamungkas: Flying Solo Tour (A Gig Story)


Kamis, 27 Juni saya memutuskan untuk berangkat langsung ke Marabunta selepas dari kantor. Pasalnya, acara malam itu dijadwalkan akan berlangsung mulai pukul 18.00 dan saya ingin berada di sana tepat sedari detik pertama.

Venue Pamungkas: Flying Solo Tour 2019 Semarang
Gambar 1. Sepi bos (dok. Adrian)

18.05 dan saya mengirim pesan singkat guna menanyakan posisi Ikrar, teman yang saya minta untuk menjadi fotografer additional pada malam itu – oke, suaka suara bukan band, tapi istilah itu memang yang paling cocok. Menunggu pesan tersebut dibalas, saya yang bermaksud untuk membeli pernak-pernik harus kecewa saat mendapati bahwa penjualan akan dimulai bersamaan dengan dibukanya pintu menuju venue. Sebenarnya hal tersebut bukanlah suatu masalah, namun juga mendapati bahwa ternyata acara akan ngaret 1 jam membuat saya lebih kecewa dan berpikir, “Ah elah, kan tadi bisa pulang ke rumah dulu. Mandi kek. Makan dulu kek.” Ya, benar. Saya memang datang dalam keadaan tidak mandi sore. Sori.

Sembari menunggu acara dimulai, saya dan Ikrar yang akhirnya datang berbincang-bincang tentang beberapa hal meliputi Sayembara kemarin, siapa Pamungkas (ia memang belum pernah dengar dan bahkan ga tau orangnya yang mana, padahal bakal ngambilin foto (woi tolong lain kali riset dulu!)), hingga perkembangan musik bawah radar di negeri ini. Obrolan tersebut berlanjut sampai pada saat kami harus mengantre, karena entah mengapa sebelum pintu dibuka seluruh calon penonton pada malam itu memutuskan untuk berbaris rapi sembari menunggu. Keren bukan? Tapi pak, pintu yang akhirnya baru dibuka pukul 20.00 sukses bikin saya mengomel sendiri. Sumpah, mending tadi pulang mandi dulu.

Penonton Pamungkas: Flying Solo Tour 2019 Semarang
Gambar 2. Antre (dok. Adrian)

Setelah masuk ke dalam venue, kami pun akhirnya turut duduk bersila bersama dengan penonton lain. Satu hal yang langsung menarik perhatian kami adalah visual yang ditembakkan ke arah panggung yang juga telah ditata. Visual yang terlihat butuh banyak persiapan tersebut sukses menjadi objek rasa kagum kami selama menunggu Figura Renata yang didaulat menjadi aksi pembuka.

Venue Pamungkas: Flying Solo Tour 2019 Semarang
Gambar 3. Venue (dok. Adrian)


Selama Figura Renata tampil, saya berusaha kembali menikmati musik mereka. “Elegi” memang sebuah tunggalan yang menarik, namun bagi saya album perdana mereka terlalu draggy hingga akhirnya tidak saya dengarkan dalam kurun waktu yang lama. Pada malam itu, seingat saya dan Ikrar, mereka membawakan lagu-lagu baik dari album perdana mereka, maupun EP Bingkai Siklus. Tampil sebagai pembuka bukan berarti mendapatkan perlakuan nomor dua, sebab pencahayaan dan visual pun digunakan dengan apik sepanjang penampilan mereka. Perlakuan yang baik juga datang dari penonton yang turut bernyanyi pada beberapa lagu seperti “Elegi” dan “Rasa dan Karsa”.

Figura Renata Pamungkas: Flying Solo Tour 2019 Semarang
Gambar 4. Figura Renata (dok. Ikrar)

Seusai Figura Renata tampil, maka panggung pun dipersiapkan untuk bintang utama pada malam tersebut. Di tengah kekosongan tersebut ada seseorang yang menyapa saya dengan tidak terlalu mengejutkan karena sebelumnya telah bertukar pesan maupun cuitan. Hal yang paling saya ingat pada malam itu adalah bahwa ia akan menunggu Gig Story ini. Jadi, ya nih silakan baca.

Menjelang tampilnya sang solois, video pembuka yang berisi sapaan bagi Semarang mulai diputarkan. Sesaat setelahnya, Pamungkas – yang secara bawaan memang selalu tampil necis –berjalan tengil melalui tepian venue dalam setelan coklat muda sembari melempar rokoknya. Sorakan riuh seketika pecah saat penonton menyadari kehadirannya. Ia sempat melambaikan tangan seraya mempercepat langkahnya menuju panggung.

Pamungkas: Flying Solo Tour 2019 Semarang
Gambar 5. Pamungkas (dok. Ikrar)

Mengawali penampilannya pada malam itu, “Intro III” yang dijelang dengan “Modern Love” pun dimainkan selayaknya pembuka pada album Flying Solo. “Lover Stay”, “Nice Day”, “Wait A Minute”, “Once”, “Monolog”, dan “Untitled” pun digeber setelahnya. Sepanjang penampilan tersebut dan terutama pada beberapa lagu paling awal, saya yang tengah duduk sempat beberapa kali merasakan tendangan dari salah satu bucin Pamungkas yang duduk di belakang saya. Keren juga sih antusiasnya, tapi santuy dikit bosque. Ikrar sendiri bahkan sempat menangkap salah satu penonton wanita yang duduk di baris paling depan mengarahkan simbol hati ke arah Pamungkas. Semoga doi ga baca tulisan ini.

Penonton Pamungkas: Flying Solo Tour 2019 Semarang
Gambar 6. Mbak-mbak hati (dok. Ikrar)

Sebelum acara dimulai, saya sempat memberi informasi ke Ikrar bahwa sepanjang pertunjukan rasanya penonton hanya akan duduk, sehingga pengambilan foto akan lebih mudah. Namun, asumsi tersebut akhirnya terbantahkan saat para penonton pun mengiyakan ajakan untuk menikmati “The Retirement of U” dan lagu-lagu berikutnya dengan berdiri. Ikrar, yang tadinya duduk dengan santai di sisi paling kiri, dengan sigap langsung merapat ke depan panggung seraya mengambil posisi jongkok. Jujur, saya sangat terkesan dengan refleksnya tersebut, mengingat ia sempat berkata bahwa ia belum pernah mengambil foto untuk sebuah liputan.

Setelah sukses mengajak semua penonton berdiri dengan “The Retirement of U” yang turut mengundang tarian-tarian kecil, Pamungkas justru memainkan “Bambina”, “Jejak”, “Outro I”, dan “Boy” secara akustik. Kendati demikian, penonton pada malam itu memilih untuk tetap berdiri dan mendengarkan Pamungkas dengan seksama, terutama mbak-mbak hati yang lagi-lagi fotonya ditangkap oleh Ikrar. Di titik ini saya curiga apakah Ikrar memiliki intensi tertentu.

Penonton Pamungkas: Flying Solo Tour 2019 Semarang
Gambar 7. Mbak-mbak hati (dok. Ikrar)

Sebelum mulai memainkan “Kenangan Manis”, Pamungkas menyampaikan bahwa lagu tersebut akan menjadi lagu terakhir untuk... sesi pertama. Guyonan yang bagus. Pun tak masalah, sebab memainkan sekitar 24 lagu tanpa jeda memanglah akan ngoyo.

Pada saat rehat, saya dan Ikrar yang kehausan, akhirnya keluar dan mampir ke salah satu lapak kaki lima yang berada di sebelah tempat parkir. Agak kepo, saya mulai menanyakan kesannya saat pertama kali mendengarkan Pamungkas. Mendapati ia berkata bahwa musik Pamungkas lumayan bagus cukup mengejutkan saya, mengingat referensi musiknya kebanyakan suram semua. Peace.

Mendapati malam telah sampai pada pukul 23.00, saya memberi tanda bahwa ia boleh pulang terlebih dahulu. Soalnya besok dia UAS, coy. Kan lebih baik istirahat – ya, saya Cancer. Ia pun meminta saya untuk melihat-lihat dulu beberapa foto yang telah ia ambil. Saya yang selama ini hanya mengambil foto dengan kamera ponsel jelas cukup takjub dengan hasilnya. Maka dari itu, selain memang saya tuliskan, Anda dapat langsung mengetahui siapa yang mengambil foto yang mana.

Pamungkas: Flying Solo Tour 2019 Semarang
Gambar 8. Pamungkas (dok. Ikrar)

Saat saya kembali ada beberapa lagu yang telah terlewatkan. Tapi tak apa, toh sebenarnya saya juga hanya mendengarkan Pamungkas secara kasual. Sori, Pam. Walaupun begitu, ada dua lagu yang memang saya tunggu-tunggu sebab memiliki pesonanya masing-masing: “To The Bone” dengan tema yang sepertinya manis (baru ngeh kalau ini adalah lagu bercinta saat mendengarkannya pada malam tersebut) dan “Break It” dengan hook yang sangat catchy. Pun, pada akhirnya dua lagu tersebut ternyata belum terlewatkan. Senang.

Satu lagu lagi yang saya tunggu adalah “I Love You But I’m Letting Go”. Kali ini bukan karena benar-benar saya sukai, melainkan karena cukup penasaran dengan reaksi penonton pada malam tersebut. Pasalnya, lagu ini sepertinya merupakan lagu yang disukai banyak orang dan membuat Pamungkas dikenal lebih luas. Seakan mengetahui hal ini, Pamungkas pun dengan sengaja membiarkan penonton mengisi beberapa bagian dalam lagu tersebut dengan hanya diiringi oleh permainan keyboard-nya.

Selain “I Love You But I’m Letting Go”, satu lagu yang tak saya sangka-sangka dinantikan oleh penonton adalah “Sorry”. Lagu tersebut bahkan langsung diminta untuk dimainkan tepat setelah “I Love You But I’m Letting Go” berakhir. Sedikit berkelit dari permintaan tersebut sebab “Sorry” direncanakan untuk menutup penampilannya, Pamungkas terlebih dahulu memainkan “Bottle Me Your Tears”.

Pamungkas: Flying Solo Tour 2019 Semarang
Gambar 9. Pamungkas (dok. Ikrar)

Sepanjang penampilan Pamungkas saya mengamati beberapa hal yang menarik, antara lain
  1. Saat bernyanyi, mulut Pamungkas miring ke sana kemari, membuat ekspresi wajahnya terkadang nampak lucu.
  2. Saat berbicara dalam bahasa Inggris, ia cenderung menggunakan aksen Britania. Mungkin ia sempat kuliah di sana?
  3. Ia sempat memainkan dua buah intro lagu Peterpan sebagai gimmick. Cukup segar di tengah lagu-lagu yang dimainkan secara serius.
  4. Saat memainkan “Nice Day”ia menyelipkan solo yang benar-benar dilakukan secara bebas. Entah mengapa saya menangkap hal tersebut sebagai sarkasme terhadap muatan “Nice Day”.
  5. Tidak tampak raut wajah takut, walaupun sebelumnya telah disapa "penduduk setempat".

Sebagai pendengar kasual, saya cukup menikmati penampilannya pada malam tersebut. Pamungkas sepertinya memiliki showmanship yang sangat kuat. Hal tersebut tercermin dari bagaimana ia melakoni karakternya di atas panggung. Talentanya pun dapat ditampilkan dengan baik karena ia lihai memainkan beragam alat musik sembari bernyayi. Selain itu, treatment pada malam tersebut yang nampak dipersiapkan dengan segenap hati jelas merupakan suatu hal yang menyita perhatian.