Jirapah - "Menjamur"


Jirapah, kuartet indie-rock eklektik asal Jakarta, merilis single terbaru berjudul “Menjamur”. Single ini menjadi materi pertama yang dirilis oleh Jirapah selapas album mini Bits pada 2015. “Menjamur” merupakan pembuka bagi Planetarium, album penuh perdana mereka yang rencananya akan dirilis pada pertengahan tahun 2019 melalui Kolibri Rekords.

Jirapah - "Menjamur"
Gambar 1. Artwork "Menjamur"

"Lagu ini terinspirasi dari pengalaman aneh yang saya dan istri saya alami beberapa waktu lalu di bilangan Jakarta Selatan. Malam itu kami berdua sedang berkendara dengan mobil menuju rumah selepas bekerja. Tiba-tiba kami melihat seekor kucing naas yang melintas pelan bersimbah darah. Sebagian badannya cukup menyedihkan. Kemungkinan besar dia baru saja tertabrak, tapi kami juga tidak yakin. Namun, yang pasti momen tersebut sangat membekas dan seperti menyadarkan bahwa hal-hal aneh akan selalu terjadi dalam hidup dan keseharian dan bagaimana keanehan seperti itu merupakan bagian dari ‘kewajaran’ yang sangat bisa terjadi lebih sering dari yang kita pikirkan", terang Ken Jenie mengenai datangnya ide untuk “Menjamur”.

Lirik untuk “Menjamur” awalnya ditulis dalam bahasa Inggris, namun seiring dengan proses pematangannya, Ken merasa bahwa pengalaman aneh tersebut membutuhkan lirik yang juga dapat memberikan rasa yang sama. Oleh karena itu, Mar Galo sang istri dipilih untuk menangkap pengalaman mereka tersebut ke dalam bahasa Indonesia.

"Secara musik, kami ingin membuat lagu yang bagian-bagiannya terus bergerak maju, yang mengalir, namun tetap memiliki tema musik yang konsisten yang dapat merangkum kembali pergerakan tersebut. Segala hal terjadi begitu cepat, pun musiknya harus demikian. Mar memulai lirik tentang si kucing berdarah, dan seiring musiknya berprogres, akhirnya kami dapat melihat celah bagi lagu ini untuk perlahan ‘membuka’ dan menceritakan latar dan tema besarnya sendiri," jelas Ken mengenai proses penulisan “Menjamur”. "Membutuhkan tiga hari untuk merekam dan menyelesaikan 'Menjamur' di kamar apartemen kami, dengan berbagai revisi di sana-sini pada melodi, gitar, lirik, dan vokal, sampai kami benar-benar merasa telah mencapai titik lagu ini sudah memberikan perasaan yang sama seperti apa yang kami rasakan ketika cerita yang menginspirasi lagu ini terjadi dahulu," lanjut Ken.

Jirapah awalnya merupakan projek pribadi Ken yang sedang menempuh studi di New York. Ken menulis, memainkan, dan merekam materi-materi yang terinspirasi oleh musik post-punk, shoegaze, indie-rock, dan indie-pop yang gelap dan mengawang seorang diri di kamarnya, sebelum akhirnya bertemu dengan Mar, sesama pelajar Indonesia yang kemudian membantunya bermain bass untuk pertunjukan-pertunjukan live bawah tanah Jirapah. Selepas tahun 2010, keduanya kembali ke Indonesia dan melanjutkan Jirapah bersama Yudhis Tira (gitar) dan Nico Gozali (drum). Hingga 2018, Jirapah telah merilis dua buah EP, enam buah single 7”, dan sejumlah single yang tersebar dalam berbagai kompilasi.

Jirapah
Gambar 2. Jirapah (ki-ka: Ken, Mar, Nico, Yudhis)

Saat ini Jirapah tengah mempersiapkan satu buah nomor lain sebagai pengantar menuju Planetarium yang akan dirilis dalam format fisik dan digital. Selain itu, kuartet ini juga sedang bersiap untuk memulai sesi rekaman untuk album penuh kedua yang kabarnya juga akan dirilis dalam waktu yang tidak terlalu jauh.