Rilisan 2018 yang Patut Disimak


Rilisan 2018 yang Patut Disimak | suaka suara

Menutup tahun ini, editor dan kontributor suaka suara menyempatkan waktu untuk memilih beberapa rilisan tahun 2018 untuk disajikan di dalam daftar ini. Banyak album, album mini, dan EP yang dirilis pada tahun ini, namun masing-masing dari kami akhirnya memutuskan untuk memilih beberapa di antaranya berdasarkan satu alasan tertentu: pesona dari keseluruhan masing-masing rilisan berikut memang membekas ke dalam telinga dan juga kepala kami, sehingga kami rasa nantinya patut pula disimak oleh pembaca.

Beberapa di antaranya memuat permasalah dalam lingkup luas seperti isu sosial dan politik, namun beberapa yang lain mengambil lingkup yang lebih kecil seperti pendewasaan dan hubungan asmara. Beberapa di antaranya menyampaikan maksudnya melalui raungan penuh distorsi, namun beberapa yang lain menyampaikannya melalui nada-nada yang mengalun membuai; berikut adalah daftar album, album mini, dan EP yang dirilis pada tahun 2018 yang patut disimak menurut suaka suara.



Oleh: Adrian Surya, editor

1. Seringai – Seperti Api

Di kala saya pertama kali mendengarkan Seperti Api, ada pesona yang mengundang saya untuk mendengarkannya secara utuh. Keputusan tersebut nyatanya sangat tepat. Seluruh nomor di dalamnya padat energi, membuat saya dapat menguras energi batin dan merasakan ketenangan setelah album ini selesai diputar.

Selain musik yang penuh energi, pesona lain juga ditebarkan melalui lirik-liriknya. Album ini utamanya berisi rasa muak terhadap beberapa isu sosial dan politik yang sayangnya masih relevan walaupun sebenarnya berasal dari masa yang berbeda-beda. Pun, dalam padatnya kemuakan sospol yang dituangkan, terselip pula nomor-nomor lain yang mengangkat perihal gairah seksual dan gairah bermusik. Menariknya, penyampaian tema-tema serius tersebut tidaklah terkesan berat dan membosankan berkat sedikit porsi kecil komedi yang dengan cerdas diselipkan.

Track favorit: “Adrenalin Merusuh”


2. Krowbar – Swagton Nirojim

Album goblo sekate-kate dari seorang rapper urakan yang merupakan seorang mantan anak punk. Kata-katanya tajam dan kotor, namun tetap  ditata dengan apik supaya tetap estetik. Barisan kata penuh ejekan tersebut disampaikan dengan angkuh di atas beat-beat cerdas yang fokus mengambil suara-suara funk, rock, dan bahkan metal.

Ah, persetan dengan ocehannya yang bau selangkangan, karena siapa yang bisa lupa dengan kovernya yang ngehe.

Track favorit: “Bilangan F.U.”

3. Beach House – 7

Hal pertama yang membuat saya jatuh hati dalam album ini justru ¬adalah nomor-nomor suram seperti “L’inconnue” dan “Black Car”. Pasalnya, beberapa waktu sebelumnya saya baru saja selesai menonton salah satu serial yang berjudul “Dark”. Soundtrack dalam “Dark” merupakan sekumpulan lagu mengawang nan suram dan kedua nomor tersebut menawarkan atmosfer yang senada.

Album ini merupakan sekumpulan episode mimpi yang dapat dialami oleh seseorang. Beberapa di antaranya merupakan yang lemas, beberapa yang lain bersemangat, dan bahkan terdapat beberapa lain yang misterius. Terdapatnya beberapa mood berbeda namun dengan benang merah yang sama merupakan faktor yang paling memikat hati saya. Selain karena variasi suasana yang dimuat, luasnya suara dan banyaknya detail yang bisa didengarkan merupakan kenikmatan yang bisa ditangkap kala album ini diputar.

Track favorit: “Black Car”

4. .Feast – Beberapa Orang Memaafkan

Mini album ini diakui hanya sekadar berita yang dibalut oleh musik, namun ide sederhana tersebut dieksekusi secara tidak tanggung. Beberapa topik berat dan sensitif dalam ranah sosial dan politik diangkat ke dalam tiap nomornya walaupun terkadang terkesan terlalu berani dan mengundang resiko. Toh, nyatanya melalui topik-topik yang diangkat tersebut, saya akhirnya tergugah untuk merenungi kembali keadaan sebenarnya dari lingkungan sekitar.

Penyampaian berita sosial-politik tersebut turut didampingi pula oleh penyampaian musikal yang baik. Beberapa detail suara dalam tiap nomornya membuat kita tidak bosan untuk mendengarkan tiap nomor berulang-ulang, walaupun tak lagi sekeras nomor-nomor besar dalam Multiverses.

Track favorit: “Kami Belum Tentu”

5. Sade Susanto – Checkpoint

Solois ini disebut-sebut sebagai harta karun terpendam dalam ranah R&B lokal. Nampaknya anggapan ini benar adanya, sebab saya langsung jatuh cinta pada lantunan vokal Sade saat pertama kali mendengarkan “The Man Who Has Hurt Me”. Single tersebut akhirnya menuntun saya untuk mendengarkan Checkpoint secara utuh.

Sebagian besar nomor di dalamnya mengungkapkan proses pendewasaan yang harus dilalui sebagai dampak dari patahnya hati. Tema ini mungkin terasa klise, namun Sade menyampaikannya melalui berbagai sudut pandang yang berbeda. Selain itu, liukan-liukan vokal yang dilakukan Sade memang sangat menawan.

Track favorit: “The Man Who Has Hurt Me”




Oleh: Bambang Irawan, kontributor


6. Arctic Monkeys — Tranquility Base Hotel & Casino

Arctic Monkeys menjungkirbalikkan prediksi sebagian besar orang dengan merilis album penuh Tranquility Base Hotel & Casino pertengahan tahun ini. Pada awalnya album ini tak lebih dari eksperimen Alex Turner dengan piano sebagai mainan barunya beserta ketiga temannya yang mengiringi dengan instrumen minimalis, kecuali porsi bass Nick O’Malley dominan seperti biasanya. Lupakan tentang rock stadium anthem macam “R U Mine” atau balapan riff gitar dan drum macam “Brianstorm”-Arctic Monkeys kini hadir dengan album yang bernafaskan space-themed-lounge; lambat, jazzy, tapi elegan. Bagi fans lama, jelas album ini bagaikan mesin diesel, butuh kesabaran penuh untuk bisa betul-betul mencerna isinya. Sebuah album late bloomer yang penuh imajinasi story-telling a la pujangga melankolis seorang Alex Turner. Butuh waktu hingga akhir tahun pula bagi saya untuk akhirnya memasukkan album ini ke daftar album terbaik 2018.

Track favorit: “One Point Perspective”

7. Last Dinosaurs — Yumeno Garden

Berbeda dengan Arctic Monkeys, Last Dinosaurs memilih untuk konsisten mengabdi di jalan yang lurus dengan tetap berpakem pada dua album sebelumnya. Yumeno Garden adalah statement yang sah sekaligus sebuah perayaan bagi Last Dinosaurs yang telah mencapai satu dekade karir di ranah musik setelah melewati berbagai macam aral melintang, termasuk ancaman bubarnya band. Walaupun terkesan cari aman dalam menghadirkan nomor-nomor biang nostalgia di Yumeno Garden, Sean Caskey dkk juga menambah corak segar dengan sedikit pengaruh dari rekan senegara Tame Impala di nomor seperti “Italo Disco” atau “Non Lo So” yang membuat Yumeno Garden semakin menjadi paket lengkap nan gurih bagi penikmat musik rock alternatif.

Track favorit: “Sense”

8. Pamungkas — Walk The Talk

Kira-kira pada pertengahan tahun ini, saya diberi tahu oleh salah satu teman tentang seorang penyanyi muda pendatang baru di Tanah Air, yang bergaya klimis dan sophisticated a la lulusan swasta bonafide ibukota. Dia adalah Pamungkas, yang merilis album debutnya Walk The Talk pada pertengahan 2018. Album debut dengan sajian electro-pop ini memiliki production value yang mahal dan semuanya dikerjakan Pamungkas seorang, dengan lirik yang simpel dan relatable dengan problematika umum milenial. Video musiknya pun diracik dengan detail luar biasa-salah satunya digarap oleh sutradara Stella Marlena-hingga memberikan added value bagi lagu-lagunya yang meramu berbagai macam perspektif dan latar cerita untuk disimpulkan dengan lirik yang ditulis dengan aura yang positif, termasuk track favorit “I Love You But I’m Letting Go” yang menimbulkan perasaan nyesek dan lega disaat bersamaan, lalu diputar terus karena beat-nya yang addicting. Nomor ini juga cocok buat penderita masokis asmara.

Track favorit: “I Love You But I’m Letting Go”