Paradise: Feasts on The Hills (A Gig Story)


Siang hari pada 10 November 2018, saya sedang lembur kerja yang nantinya membuat saya uring-uringan selama beberapa hari setelahnya. Pasalnya, saya tidak merasa lembur itu seharusnya diadakan mengingat lini masa pekerjaan masih berada pada jalurnya. Namun, aku mah apa atuh?

Gambar 1. Poster Acara

Salah satu faktor lain yang turut menambah rasa kesal saya sebenarnya adalah keistimewaan pada hari tersebut. Saya seharunya mengkhususkan hari tersebut untuk menonton .Feast yang bertandang ke Semarang untuk pertama kalinya. Namun, karena merasa diri saya adalah seorang “Kelelawar”, lembur tersebut tidak saya anggap sebagai sebuah hambatan yang berarti. Walhasil, saya pun tetap dengan keras kepala menyempatkan diri untuk bertolak menuju venue.

Sesampainya di venue, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari toilet sembari berpikir, “Kenapa tadi ga buang air di kantor aja sih, Kampret?”.

・・・

Setelah merasa lega, saya segera berjalan menuju gerbang masuk acara. Setelah masuk, saya sempat melihat-lihat galeri seni dadakan yang berlokasi di dalam venue. Salah satunya berhasil menarik perhatian saya karena sepertinya memang dibuat dengan bayang-bayang .Feast melalui isinya yang berisi potongan-potongan berita yang mempertanyakan keputusan pemerintah.

Gambar 2. Seni yang terinspirasi oleh .Feast

Usai menilik beberapa seni lain, saya bertolak menuju ke luar dan duduk pada tangga yang berada di sekitar venue. Saya sedang mengecek ponsel saya untuk mengetahui lokasi teman saya yang akan turut hadir, ketika secara mengejutkan mendapatkan kabar dari Bambang Irawan bahwa akun Medium saya terkena suspend dan turut menyebabkan publication suaka suara terkena imbasnya.
Panik! Saya cek melalui ponsel saya. Masih ada! Saya cek melalui mode private pada browser dan voila! Ternyata memang benar adanya. Merasa senewen, saya pun mengirimkan pesan untuk menanyakan penyebab terjadinya hal tersebut kepada Medium melaui email dan direct message pada aplikasi Twitter.

Sembari menunggu balasan, saya pun mengusulkan sebuah gagasan yang sebenarnya sudah cukup lama saya pertimbangkan: sebuah laman tersendiri untuk suaka suara. Gagasan ini tertunda cukup lama tanpa pernah dimulai untuk dilakukan, dikarenakan kami sudah merasa nyaman bersuara melalui Medium. Selain itu, saya sendiri memang tidak memiliki cukup pengetahuan terkait cara membuat laman tersendiri. Untungnya, ide ini langsung di-amin-i oleh Bambang dan beliau pun memberikan beberapa petunjuk terkait cara melakukannya karena ternyata beliau pun memiliki laman tersendiri. Dih, ga bilang-bilang.

Setelah merasa menemukan solusi, saya memutuskan untuk tidak menghiraukan masalah tersebut dan kembali menikmati momen. Kebetulan, salah satu teman saya tiba di venue beberapa saat kemudian. Kami pun menikmati jajanan dan mengobrol, menunggu dua teman lain yang rencananya juga akan turut hadir.

・・・

Acara utama pun dimulai, dan tampillah Aknostra. Saya cukup terkejut mandapati bahwa Aknostra ternyata adalah moniker dari seorang rapper, dikarenakan format yang pertama kali terbersit dalam pikiran saya melalui nama tersebut adalah sebuah band.

Seusai Aknostra tampil, maka Hills Collective pun menginvasi panggung. Hills adalah sebuah kolektif yang berfokus pada hip-hop dan R&B dan berbasis di Semarang. Salah satu anggota yang paling saya sukai adalah Sade Susanto, karena album solonya nyatanya memang dengan mudah menyita perhatian saya selama beberapa minggu sebelumnya.

Gambar 3. Sade Susanto

Hills membuka penampilan mereka dengan “SZN”, sebuah single yang memang mereka luncurkan sebagai sebuah kolektif. Pembukaan tersebut kemudian dilanjutkan dengan membawakan beberapa lagu yang menjadi milik beberapa anggotanya saat menjadi solois. Namun, salah satu penampilan yang paling membuat saya merasa terkesima, selain penampilan Sade tentunya, adalah saat mereka membawakan cover untuk “Alright” dari Kendrick Lamar. Saya pribadi menyukai lagu tersebut dan cover mereka bagus sekali!

Gambar 4. Hills Collective

Seusai Hills, beberapa kru menyiapkan panggung yang selanjutnya akan menjadi milik band raja kalong sang headline utama: .Feast!
・・・

Saat panggung mulai gelap, terdengar nama Bodat dipanggil beberapa kali oleh penonton pada malam itu. Wajar, beliau memang personil paling ikonik dari band asal Jakarta ini. Sosoknya yang mirip dengan genderuwo (berkumis, berambut panjang, dan sering bertelanjang dada) ditimpali pula dengan tingkahnya yang urakan karena terkadang secara egois melakukan solo drum tanpa persetujuan teman-temannya. Solo drum egois ini nantinya juga akan terjadi dalam panggung kali tersebut.

Gambar 5. Reaksi member lain saat Bodat melakukan solo drum

“Kami Belum Tentu” dan “Padi Milik Rakyat” menjadi dua lagu yang dibawakan sebagai pembuka penampilan pada malam itu. Antusiasme penonton cukup terlihat dari volume sing-a-long yang terjadi pada sepanjang dua lagu tersebut. Setelahnya, Baskara menyampaikan salam pembuka dan mengingatkan para penonton untuk mengingat bahwa semua lagu pada Beberapa Orang Memaafkan adalah tragedi yang memang secara nyata terjadi. Intrermezzo tersebut kemudian dilanjutkan dengan tiga lagu lain dari mini album Beberapa Orang Memaafkan yang seingat saya memang dibawakan dengan urut.

Gambar 6. Kampanye

Dalam kesempatan tersebut beberapa lagu dari MULTIVERSES, seperti “Wives of ゴジラ”, “Kelelawar”, dan “Fastest Man Alive”, tidak terlewat untuk dibawakan. Keempat lagu tersebut adalah lagu-lagu rock yang cukup keras dan dibawakan pula dengan attitude rock, sehingga akhirnya memancing para penonton untuk menjadi liar dan membentuk wall of death. Melihat antusiasme penonton, pada salah satu kesempatan Baskara secara tiba-tiba melompat guna melakukan stage dive.
Penampilan .Feast pada malam itu resmi ditutup pada ketukan terakhir “Sectumsempra”.

Gambar 7. .Feast saat tampil


・・・

Post-event

Saya mendapatkan pesan bahwa leher dan kuping teman saya mengalami beberapa gangguan ringan. Saya pun menertawakan hal tersebut sementara punggung saya menderita pegal-pegal.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...